Nih Cerita Rasulullah Dan Lemparan Batu

Sepeninggal Abu Thalib,gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin besar. Beliau pun berniat untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if.Beliau berharap akan memperoleh pinjaman penduduk setempat dan akan menyambut baik undangan dia untuk memeluk agama Islam.Tak usang kemudian,beliau bersama Zaid bin Haritsah,anak angkat beliau, pergi ke Tha’if.

Kabilah terbesar di Tha’if yaitu Bani Tsaqif,kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai.Mengetahui akan hal ini,Rasulullah SAW menemui pemimpin Bani Tsaqif yg terdiri dari tiga bersaudara.Rasulullah SAW memberikan maksud kedatangan dia dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah kepada selain Allah SWT.Namun jawaban dari mereka sungguh di luar cita-cita beliau.

gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin besar Nih Kisah Rasulullah dan Lemparan Batu

Salah satu dari mereka berkata,“Apakah Allah tidak sanggup memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau? ”

Yang lainnya berkata,“Kami hidup bebuyutan di sini.Tiada kesusahan atau pun penderitaan.Hidup kami makmur,serba berkecukupan.Kami merasa senang dan bahagia. Oleh alasannya yaitu itu, kami tak perlu agamamu.Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu.Kami pun punya Tuhan yang berjulukan Al-Latta,yang mempunyai kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktinya dia telah menunjukkan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki. ”

Yang lainnya lagi berkata,“Jauh berbeda dengan fatwa yang kalian tawarkan.Penuh siksaan dan tempat yang selalu penuh dengan derita.Jelas kami menolak fatwa kalian.Bila tidak,akan menyebabkan malapetaka bagi penduduk kami di sini. ”

Mendengar jawaban mereka, Rasulullah SAW berkata,“Jika memang demikian,kami pun tidak memaksa.Maaf jikalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri. ”

Mereka berkata lagi,“Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kalian mengembangkan tragedi besar bagi penduduk di sini.Kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja.Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai kawan kami.Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka. ”

Maka Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Namun demikian,para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja.Di luar rumah para pemimpin tersebut,Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tidak ramah.Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu arahan dari seseorang,sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah dengan batu.Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah SAW sambil pergi dari tempat itu.Mereka berdua terluka jawaban lemparan-lemparan itu.

Setelah agak jauh dari kota Tha’if,Rasulullah berteduh erat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.Ketika sudah tenang,Rasulullah SAW mengangkat kepala menengadah ke atas,ia hanyut dalam suatu doa yg berisi pengaduan yang sangat mengharukan :

“Allahumma ya Allah,kepadaMu saya mengadukan kelemahanku,kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia.Wahai Tuhan Yang Maha pengasih Maha penyayang.Engkaulah yang melindungi si lemah,dan Engkaulah Pelindungku.Kepada siapa hendak Kauserahkan diriku?Kepada orang jauh yang berwajah muram kepadaku? atau kepada musuh yg akan menguasai diriku?Aku bukan peduli selama Engkau tidak marah kepadaku. Sungguh luas kenikmatan yg Kaulimpahkan kepadaku.Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat.Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku.Engkaulah yang berhak menegur sampai berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau. ”

Kemudian Allah SWT mengutus Jibril untuk menghampiri beliau.Jibril berkata,“Allah mengetahui apa yg telah terjadi di antara kau dan penduduk kota Tha’if.Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu.Jika engkau mau,maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu sampai penduduk kota itu akan binasa.Atau engkau sebutkan saja suatu eksekusi bagi penduduk kota itu. ”

Setelah mendapatkan hinaan dan lemparan kerikil yang demikian menyakitkan,kemudian menerima proposal luar biasa dari Jibril,apa jawaban Rasulullah SAW? Ia malah terkejut dengan proposal tersebut,lalu menjawab Jibril,“Walaupun orang-orang ini tidak mendapatkan fatwa Islam,tidak mengapa.Aku berharap dengan kehendak Allah,anak-anak mereka pada suatu masa kelak akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya. ”

Demikianlah kelembutan hati Rasulullah SAW.Dia manusia,tapi tak menyerupai manusia.Begitu mulianya pengorbanan beliau.Walaupun halangan menimpa,namun hatinya tetap tabah, penuh kelembutan dan kasih sayang.Betapa kejinya orang-orang yang menghina insan mulia ini.Betapa jahatnya orang-orang yg menyakiti beliau.Termasuk kita..

Begitu mudahnya kita menyakiti perasaan dia dengan meninggalkan ajarannya.Tidak tahukah kita,bahwa setiap hari,amal-amal kita akan dihadapkan kepada Rasulullah SAW?Jika amal itu baik,maka dia pun bergembira dan bersyukur.Jika amal itu buruk,maka dia dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi kita.Adakah pemimpin lain yg selalu memikirkan umatnya dari semenjak di dunia sampai di kehidupan berikutnya selain Rasulullah SAW?


:Nama-nama Nabi Dan Rasul Allah

Ya Allah, ampuni kami.. Ya Rasulullah, maafkan kami…
Related Posts