Nih Belakang Layar Dibalik Masjid Al Aqsa
Upaya Zionis-Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha sudah usang diketahui dunia. Mereka berkeinginan untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple), di atas reruntuhan Masjidil Aqsha. Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman a.s, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut.
Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Tahun 70 M, tentara Katolik Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah. Hal itulah salah satu penyebab kaum fanatik Zionis menjadi teramat benci kepada umat Kristen.
Lalu pada ketika wilayah ini masuk dalam kekuasaan Khalifah Islam, dihamparan wilayah itu dibangunlah Masjidil Aqsha oleh Umar bin Khattab. Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman sempurna berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sebetulnya berada di luar kompleks Masjidil Aqsha kini ini.
Masjid Al-Aqsha pada awalnya yakni rumah ibadah kecil, tetapi telah diperbaiki dan dibangun kembali oleh khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Al-Walid pada tahun 705 Masehi.
Setelah gempa bumi tahun 746, masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh khalifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 754, dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780. Gempa berikutnya pada tahun 1033 menghancurkan sebahagian besar Al-Aqsa, namun dua tahun kemudian khalifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri sampai kini.
Dalam aneka macam renovasi terencana yang dilakukan, aneka macam dinasti kekhalifahan Islam telah melaksanakan penambahan terhadap masjid dan daerah sekitarnya, antara lain pada penggalan kubah, fasad, mimbar, menara, dan interior bangunan. Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka memakai masjid ini sebagai istana dan gereja, namun fungsi masjid dikembalikan menyerupai semula sehabis Shalahuddin merebut kembali kota itu.
Renovasi, perbaikan, dan penambahan lebih lanjut dilakukan pada abad-abad kemudian oleh para penguasa Ayyubiyah, Mamluk, Utsmaniyah, Majelis Tinggi Islam, dan Yordania. Saat ini, Kota Lama Yerusalem berada di bawah pengawasan Israel, tetapi masjid ini tetap berada di bawah perwalian forum wakaf Islam pimpinan orang Palestina.
Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang ketika ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menimbulkan mimbar kuno Shalahuddin Al-Ayyubi terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar gres yang berdasarkan banyak sumber menyatakan bahwa mimbar itu yakni buatan dari Jepara-Indonesia.
Cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya. Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan semoga semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.
Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini menyampaikan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka menyampaikan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya. Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan sentra dunia dan pemerintahan segala bangsa.
Dalam keyakinan Yudaisme yang sebetulnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a.s, bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Namun hal ini masih menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.
Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, justru Messiah sendirilah yang akan tiba dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman yang pada jadinya diperuntukkan bagi sentra pemerintahan dunia (One World Order).
Sekarang, tentara Zionis sudah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera hadir...?
Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, ada suatu upacara ritual khusus bagi Zionis untuk menyambut sang Messiah yang membutuhkan syarat-syarat khusus dalam upacara ritual tersebut. Oleh lantaran itu Presiden Zionis-Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi undangan semoga Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka. Kaum Zionis masih ingat betul, ketika di tahun 70M, pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.
Jika harta karun sudah dikembalikan, maka ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak. Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapat seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.
Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun. Daerah ini kini masih berada di tangan bangsa Palestina, alasannya itulah maka kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.
Guna mencapai tujuannya, kaum Zionis tidak berusaha sendirian. Mereka juga memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Katolik yang notabene telah menghancurkan Haikal Sulaiman rata dengan tanah. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem. Kesamaan pandangan inilah yang menciptakan orang-orang Katolik mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Katolik ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak sanggup bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu jadwal utama Zionis ini yakni juga meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.
Dari sisi aturan internasional, upaya penghancuran Masjidil Aqsha juga tidak sanggup dibenarkan. Berdasarkan Resolusi DK-PBB Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis semoga mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, dan menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yang tak lain yakni rakyat Palestina. Namun dalam tataran praktek, resolusi ini tidak dijalankan. Menurut keyakinan Yahudi, kalau Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman, maka Messiah itu akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yakni si Yahudi itu sendiri.
Sumber: Diolah dari aneka macam sumber sejarah.
Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Tahun 70 M, tentara Katolik Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah. Hal itulah salah satu penyebab kaum fanatik Zionis menjadi teramat benci kepada umat Kristen.
Lalu pada ketika wilayah ini masuk dalam kekuasaan Khalifah Islam, dihamparan wilayah itu dibangunlah Masjidil Aqsha oleh Umar bin Khattab. Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman sempurna berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sebetulnya berada di luar kompleks Masjidil Aqsha kini ini.
Masjid Al-Aqsha pada awalnya yakni rumah ibadah kecil, tetapi telah diperbaiki dan dibangun kembali oleh khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Al-Walid pada tahun 705 Masehi.
Setelah gempa bumi tahun 746, masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh khalifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 754, dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780. Gempa berikutnya pada tahun 1033 menghancurkan sebahagian besar Al-Aqsa, namun dua tahun kemudian khalifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri sampai kini.
Dalam aneka macam renovasi terencana yang dilakukan, aneka macam dinasti kekhalifahan Islam telah melaksanakan penambahan terhadap masjid dan daerah sekitarnya, antara lain pada penggalan kubah, fasad, mimbar, menara, dan interior bangunan. Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka memakai masjid ini sebagai istana dan gereja, namun fungsi masjid dikembalikan menyerupai semula sehabis Shalahuddin merebut kembali kota itu.
Renovasi, perbaikan, dan penambahan lebih lanjut dilakukan pada abad-abad kemudian oleh para penguasa Ayyubiyah, Mamluk, Utsmaniyah, Majelis Tinggi Islam, dan Yordania. Saat ini, Kota Lama Yerusalem berada di bawah pengawasan Israel, tetapi masjid ini tetap berada di bawah perwalian forum wakaf Islam pimpinan orang Palestina.
Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang ketika ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menimbulkan mimbar kuno Shalahuddin Al-Ayyubi terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar gres yang berdasarkan banyak sumber menyatakan bahwa mimbar itu yakni buatan dari Jepara-Indonesia.
Cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya. Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan semoga semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.
Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini menyampaikan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka menyampaikan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya. Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan sentra dunia dan pemerintahan segala bangsa.
Dalam keyakinan Yudaisme yang sebetulnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a.s, bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Namun hal ini masih menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.
Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, justru Messiah sendirilah yang akan tiba dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman yang pada jadinya diperuntukkan bagi sentra pemerintahan dunia (One World Order).
Sekarang, tentara Zionis sudah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera hadir...?
Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, ada suatu upacara ritual khusus bagi Zionis untuk menyambut sang Messiah yang membutuhkan syarat-syarat khusus dalam upacara ritual tersebut. Oleh lantaran itu Presiden Zionis-Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi undangan semoga Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka. Kaum Zionis masih ingat betul, ketika di tahun 70M, pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.
Jika harta karun sudah dikembalikan, maka ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak. Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapat seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.
Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun. Daerah ini kini masih berada di tangan bangsa Palestina, alasannya itulah maka kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.
Guna mencapai tujuannya, kaum Zionis tidak berusaha sendirian. Mereka juga memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Katolik yang notabene telah menghancurkan Haikal Sulaiman rata dengan tanah. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem. Kesamaan pandangan inilah yang menciptakan orang-orang Katolik mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Katolik ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak sanggup bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu jadwal utama Zionis ini yakni juga meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.
Dari sisi aturan internasional, upaya penghancuran Masjidil Aqsha juga tidak sanggup dibenarkan. Berdasarkan Resolusi DK-PBB Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis semoga mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, dan menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yang tak lain yakni rakyat Palestina. Namun dalam tataran praktek, resolusi ini tidak dijalankan. Menurut keyakinan Yahudi, kalau Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman, maka Messiah itu akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yakni si Yahudi itu sendiri.
Sumber: Diolah dari aneka macam sumber sejarah.

0 Response to "Nih Belakang Layar Dibalik Masjid Al Aqsa"
Posting Komentar