Nih Catatan Seorang Pendosa
Catatan seorang Sinner
Istiqomah.
Menurut Umar bin Khatab R.A, istiqomah membela dalam satu perintah dan juga melarang dan tidak berpaling dari orang lain ibarat seekor rubah.
Sedangkan dari Ali bin Abi Thalib, istiqomah berarti melakukan kiprah yang telah ditentukan (Shahid Ulhaq, 2015).
Itulah yang saya coba lakukan setiap hari, istiqomah dengan perubahan yang saya lakukan. Karena ia ingin menemukan redha-nya, dan melupakannya.
“Nur, apa boleh makan?” Suara nyaring itu membuatku melamun.
"Dah. Tunggu daerah tidur saya untuk tidur. "Bamboo menjaga, ini ialah rutinitas rutin saya untuk memastikan ia sudah berdiri dengan tepat alasannya ialah ia menderita stroke.
Keputusan yang saya ambil, tanpa banyak berpikir. Tolak anjuran pekerjaan yang gajinya jauh lebih tinggi sesuai dengan kualifikasi gelar sarjana. Memilih untuk bekerja shift, honor kecil dan bangku di sisi atap.
Kenapa? Jawaban yang akan saya simpan akan mati.
Cukuplah saya untuk mengatakan, rezeki yang diberikan Tuhan, dan menjaga pasangan saya ialah salah satu peluang rezeki bagi saya untuk melayani. Ibu dan ayah pengganti yang kini tidak berdaya untuk mengelola orang renta mereka.
Saya tidak berpikir saya akan kembali ke semenanjung sehabis 3 tahun di tanah Kalimantan, dalam dosa.
Saya pulang dengan satu tekad. Artinya, pertobatan. Berpeganglah pada ayat 'Innasolati, wanusuki, wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin.', 'Sesungguhnya, doa saya, ibadah saya hanya untuk Allah, TUHAN seluruh alam semesta.'
Jalan istiqomah saya tidak mudah. Ketika saya mulai mengucapkan kata-kata yang baik, sobat terdekat menyampaikan kepada saya untuk melihat cermin, untuk melihat huruf munafiq.
Dapatkah saya menebak bila saya mencoba untuk menutupi ketelanjangan, menjaga kata-kata, menghindari percakapan yang berarti itu ialah dari tanah?
Selain itu, ia merindukannya ialah tebakan terbesar dalam hidupku. Karena kehidupan dari kehidupan ini hanya dia, jadi saya lupa, Tuhan yang memegang hati manusia.
Saya mengejar cinta manusia, kemuliaan dunia, sehingga kehidupan menggulingkan tiang yang telah ditanam semenjak kecil. Doa saya ialah di mana berpuasa hanya untuk lapar, hijab hanyalah mode.
Akhirnya, saya kehilangan dia, hampir kehilangan martabatnya, kehilangan segalanya. Sementara perempuan ialah keindahan dunia, dan saya sibuk mengejar dunia, tanpa mengetahui saya akan masuk neraka.
Dia laki-laki yang baik. Menjadi taat kepada orang tua, upaya mereka untuk beribadah, kadang kala kadang-kadang, selalu sopan kepada siapa pun.
Saya jarang mendengar ia menyampaikan bergairah meskipun ia diuji dahysat. Tapi saya, demi mengejar dia, saya bermetamorfosis perempuan modern. Sementara itu ialah fatamorgana dunia.
Sekarang saya menyadari, cinta suci itu, bukan dengan mengejar yang kita cintai, bukan dengan kenalan yang terus-menerus menunggu.
Tetapi dengan mencari cinta Tuhan. Masukan cinta dalam Tuhan dan rasul. Maka, cinta insan hanya akan menjadi mimpi yang saya tahu saya tidak perlu lakukan lagi.
Kasih dan belas kasihan Tuhan sudah cukup bagi saya. Mungkin langkah saya masih panjang, kepercayaan saya masih di panggung publik.
Saya masih berusaha untuk mendapat level gadis itu. Itulah mimpi yang telah dipasang semenjak kembali ke jalan yang benar.
Dengan sodomi tak berujung dari zaman, hanya kepercayaan yang berpengaruh dan doa saja yang sanggup menyelamatkan saya.
InsyaAllah, saya akan terus istiqomah, dan Anda di luar sana jangan menyerah. Pintu pertobatan selalu terbuka. Rahmat Tuhan itu luas dan ada pesan yang tersirat di balik semua yang terjadi.
Saya masih merindukannya, tetapi kini istighfar menjadi masakan saya setiap kali ia tiba ke pikiran.
Semoga saya akan membawa tamat yang senang untuk hari ini.

0 Response to "Nih Catatan Seorang Pendosa"
Posting Komentar