Nih Siapakah Khalid Basalamah Terkait Problem Kata Sayyidina

Bantahan terhadap Dr. Khalid Basalamah terkait Masalah Kata Sayyidina
Baru-baru ini kita terkejut fatwa gres yang menciptakan gempar umat Islam Indonesia,khususnya ialah warga Ahlussunnah waljama'ah.Dalam video pendek itu terdapat pembidahan dalam menisbatkan kata “sayyidina” dikala menyebut Nabi Muhammad Saw.Menurutnya,kata sayyidina belum ada di zaman Nabi.Menyebut Nabi dengan sayyidina malah mengurangi martabat Nabi. Pendapat ini disampaikan oleh Dr.Khalid Basalamah,yang beberapa waktu ini banyak menarik perhatian netizen.

Kontan saja pendapat ini menjadikan polemik.Pasalnya,memanggil Nabi Muhammad dengan memakai sayyidina sudah menjadi kebiasaan turun temurun mulai dari zaman dahulu.Nah,ketika masyarakat mendengar fatwa kontroversial menyerupai itu, pastilah masyarakat merespons dan menanggapinya dengan cepat,dan bahkan hingga menyampaikan hal-hal negatif.

 Khalid Basalamah terkait Masalah Kata Sayyidina Nih Siapakah Khalid Basalamah Terkait Masalah Kata Sayyidina

Perlu diketahui bahwa bahwasanya pnggilan dengan kata sayyidina terhadap dia Nabi Muhammad Saw. sudah dipakai oleh para sahabat menyerupai dalam beberapa hadis yang akan disebutkan di bab berikutnya.Entah mengapa hadis-hadis tersebut diabaikan begitu saja.Beliau malah justru membidahkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya.

1. Dalil dari Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. juga menisbatkan sayyidina kepada Nabi Yahya a. s. menyerupai pada ayat berikut :

“Allah memberikan kabar bangga kepadamu dengan (kelahiran) Yahya,yg membenarkan sebuah kalimat dari Allah,panutan (sayyid),berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu),dan seorang nabi di antara orang-orang saleh, ” (QS Ali Imran 3 : 39).

Ditilik dari ayat ini, kalau Allah menisbatkan kata sayyidina kepada Nabi Yahya,apakah tidak bisa,tidak sah,tidak tepat kalau kata sayyid juga dinisbatkan kepada Nabi Muhammad mengingat keduanya ialah sama-sama seorang nabi dan rasul yg memberikan hukum-hukum-Nya?Apakah dengan menyebut Nabi Yahya dengan sayyid,Allah Swt. sedang mengurangi martabat Nabi Yahya sehingga memuji dengan kata sayyid?

2. Dalil dari Segi Bahasa

Kata sayyid dari segi bahasa memiliki banyak makna. Bisa diartikan dengan ‘orang yang memimpin suatu kaum, orang yang banyak pengikutnya, orang yang mulia di antara lainnya,orang yang patut untuk ditaati (Al- Mu’jam Al-Wasith).
Jadi, kalau ditinjau dari segi bahasa,kata sayyidina sangatlah tepat disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai nabi, dia ialah pemimpin semua manusia, diikuti oleh semua orang Islam, dan orang yang paling mulia di antara semua makhluk di sisi Allah Swt. Hal ini tidak bisa dibantah lagi.

Yang perlu diingat bahwa memuji itu tidak harus memakai kata yg tepat dan tidak harus melampaui batas. Apalagi kemuliaan Nabi tidak ada yg mengetahui batasnya kecuali Allah.Jadi,kalau disebut bahwa memuji dengan kata sayyidina akan mengurangi martabat Nabi, tentulah tidak berdasar.

3. Dalil dari Hadis

Dalil kata sayyidina dari hadis,ternyata sangat banyak. Hal ini menawarkan bahwa kata tersebut sudah dipakai mulai zaman Nabi. Berikut beberapa di antaranya :

Beliau Menyebut Diri Sendiri sebagai Seorang Sayyid

Dari Abu Hurairah,Rasulullah Saw. bersabda :“Saya ialah pemimpin semua bani Adam di Hari Kiamat,”(HR Muslim, 5. 899).

Dalam riwayat lain,terdapat perbedaan sedikit,“Saya ialah pemimpin seluruh insan di Hari Kiamat,”(HR Bukhari, 3. 340 ; Muslim, 479).

Sahabat Memanggil Beliau dengan Panggilan Sayyid

Dari Sahl bin Hunaif r. a. bercerita bahwa suatu dikala kita mendapati sungai sedang mengalami banjir,kemudian saya masuk ke dalam sungai tersebut utk mandi.Keluar dari sungai itu,kudapati badanku terasa panas.Akhirnya kulaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw.

Beliau berkata :“Perintahkanlah kalian semua kepada Abu Tsabit utk bertaawwuz (membaca a’udzubillahi minasy syaithani),”Aku berkata :“Wahai Sayyidi,masih ada azimat (jimat) yg ampuh (kenapa diperintah bertaawwuz) ? ” Beliau bersabda,“Tidak ada azimat kecuali penyakit dalam tubuh,panas,dan penyakit akhir sengatan,” (HR Abu Dawud, 3. 888 ; An-Nasa’i dalam Amalul Yaum wa Lailah, 257).

Begitulah legalisasi (taqrir) dia Nabi yg tidak mengingkari sama sekali dikala dipanggil dengan memakai kata sayyid.

Nabi Menisbatkan Kata Sayyid kepada Beberapa Sahabat

Dari Aisyah r. a.dalam menceritakan datangnya sahabat Sa’d bin Muadz dikala dipanggil oleh Nabi utk mengeluarkan keputusan aturan dalam insiden Bani Quraizhah.Beliau bersabda,“Berdirilah kalian utk sayyid kalian dan persilahkanlah dia,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dari jalur Abu Said Al-Khudry,lebih ringkas sedikit “Berdirilah kalian semua utk sayyid kalian, ” (HR Bukhari, 3. 043).

Dari Abu Bakrah r. a. yg melihat Rasulullah Saw. sedang berkhutbah dan Hasan bin Ali sedang duduk di sampingnya. Beliau menghadap kepada hadirin dan terkadang menghadap kepadanya seraya bersabda,“Sungguh, putraku ini ialah pemimpin (sayyid).Dan kelak,dengan putraku ini,Allah akan mendamaikan di antara dua golongan besar yg berseteru dari orang-orang Islam, ” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,“Hasan dan Husain ialah pemimpin (sayyid) cowok hebat surga, ” (HR Tirmidzi, 3. 768).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda terhadap Fatimah r. a. “Apakah kau tidak ridza kalau kau akan menjadi pemimpin (Sayidah) para wanita surga? ” (HR Tirmidzi).

Sahabat Menisbatkan Sayyidina kepada Sahabat Lain

Diriwayatkan bahwa Umar r. a. berkata, “Abu Bakar ialah pemimpin kita (sayyidina) dan telah memerdekakan pemimpin kita pula yaitu Bilal, ” (HR Bukhari).

Diriwayatkan pula bahwa Umar berkata kepada Abu Bakar dalam insiden baiat khilafah,“Bahkan kami akan membaiat kamu.Sungguh kau ialah pemimpin kita (sayyidina),orang yg paling manis di antara kita, yg paling cinta kepada Rasulullah Saw. ” Lalu, Umar mengambil tangannya dan membaiatnya menjadi khalifah. (HR Bukhari).

Dan, masih banyak hadis wacana hal ini yg kiranya sudah kita cukupi dengan hadis-hadis yg disebutkan sebagai tendensi wacana persoalan ini.Sebenarnya masih banyak hadisnya,tetapi kami berusaha mengambil hadis yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,agar supaya predikat kesahihan hadisnya tidak dipermasalahkan oleh orang-orang yg mengaku menguasai hadis.

4. Dalil Secara Logika

Sesuai fakta dan realitas,semua orang niscaya memiliki figur yg ia hormati dalam kehidupan.Misalnya,anak menghormati ayahnya, murid kepada gurunya,masyarakat kepada para pejabat tingginya, dll.

Pertanyaannya,sopankah kalau anak memanggil bapaknya dengan pribadi memanggil namanya tanpa ada penisbatan ‘”bapak,ayah”,dll.? Sopankah kalau seorang murid memanggil gurunya dengan pribadi memakai namanya? Begitu pula masyarakat,sopankah memanggil bapak presiden dengan pribadi memanggil namanya di hadapannya?

Jika semua itu terjadi,yakni anak pribadi memanggil nama bapaknya dan seterusnya,pastilah semua orang menyampaikan bahwa anak tersebut ialah anak bejat,anak durhaka.Murid yg kurang waras,tak berpendidikan. Masyarakat yg sombong, tidak tau sopan santun, dll.

Dalam kaitannya dengan memanggil dia Nabi,manusia paling mulia,paling dicintai Allah,paling tepat segalanya di alam semesta,pengen dikatakan orang menyerupai apa kalau Anda memanggil dia Nabi dengan pribadi memakai nama beliau?Kata sayyidina ialah kata yg tepat disandangkan oleh dia Nabi ditilik dari kandungan maknanya secara bahasa. Itulah logikanya sebagai renungan.

Nah,setelah kita mengetahui semua itu, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing.Pantaskah kita memanggil dia Nabi dengan pribadi memakai nama beliau? Tidak lain bahwa panggilan kita kepada dia Nabi memakai sayyidina ialah sopan santun,adab,tata eksekusi alam kita kepada beliau.Dalam Al-Qur’an,Allah Swt. berfirman :

“Janganlah kau jadikan panggilan rasul (Muhammad) di antara kau menyerupai panggilan sebagian kau kepada sebagian yg lain,” (QS An-Nur 25 : 63).

Ayat ini secara tegas melarang panggilan kita kepada Nabi dengan pribadi memakai nama beliau.Ayat ini turun dikala sebagian sahabat memanggil dia dengan pribadi memakai nama dia ‘Muhammad’,‘Ahmad’, dll.

Kita juga diwajibkan memuliakan Nabi,seperti firman Allah Swt. berikut :

“Adapun orang-orang yg beriman kepadanya,memuliakannya,menolongnya,dan mengikuti cahaya yg terperinci yg diturunkan kepadanya (Al-Qur’an),mereka itulah orang-orang yg beruntung,” (QS Al-A’raf 7 : 157).

Dari semua itu,kita bisa menyampaikan bahwa kebiasaan kita memanggil dia Nabi dengan kata sayyidina ialah dianjurkan sesuai dua ayat terakhir tersebut.Kata tersebut juga tidak bidah dengan bertendensi dengan ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yg sudah disebutkan. panggilan kita memakai kata tersebut,tidak mengurangi derajat Nabi.
Related Posts