Nih Dongeng Bubuk Hanifah Dan Tetangganya
ABU HANIFAH DAN TETANGGANYA
Abu Hanifah yang sudah terbiasa melakukan salat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh bunyi nyanyian si tukang sepatu tersebut. Tetapi, ia diamkan saja. Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi menyerupai biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata berdasarkan keterangan tetangga lain, ia gres saja ditangkap polisi dan ditahan.
Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya ke istana. Ia ingin menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang berkenan menemuinya.
“Ada yang sanggup saya bantu?” tanya sang Amir.
“Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir, ” jawab Abu Hanifah.
“Baikiah,” kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu Hanifah yang gres ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika datang di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata,
“Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?”
“Tidak, bahkan sebaliknya.” Ia menambahkan, “Terima kasih. Semoga Allah memberimu akibat kebajikan.”
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah sanggup merasa lebih khusyu’ dalam ibadahnya setiap malam.
Sumber: Al-Thabaqat al-Saniyyat fi Tajarun al-Hanafiyat, Taqiyyuddin bin Abdul Qadir al-Tammii
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
“Ada yang sanggup saya bantu?” tanya sang Amir.
“Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir, ” jawab Abu Hanifah.
“Baikiah,” kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu Hanifah yang gres ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika datang di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata,
“Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?”
“Tidak, bahkan sebaliknya.” Ia menambahkan, “Terima kasih. Semoga Allah memberimu akibat kebajikan.”
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah sanggup merasa lebih khusyu’ dalam ibadahnya setiap malam.
Sumber: Al-Thabaqat al-Saniyyat fi Tajarun al-Hanafiyat, Taqiyyuddin bin Abdul Qadir al-Tammii
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

0 Response to "Nih Dongeng Bubuk Hanifah Dan Tetangganya"
Posting Komentar