Nih Dongeng Mengharukan Orang Yahudi Masuk Islam
Kisah Mengharukan Mualaf Yahudi : Kenapa Kita Ada Di Sini? Kemana Kita Semua Akan Pergi?
Bismillahirrahmaanirrahiim. Namaku James D. Frankel. Aku akan menceritakan sedikit pengalaman wacana bagaimana saya masuk Islam. Aku seorang professor dalam bidang perbandingan agama, saya juga mengajar kelas Islam di Universitas Hawaii, Manoa. Dan saya tinggal di Hawaii selama 2 tahun, kini memasuki tahun ke-3. Beberapa sahabat muslim memintaku apakah saya sanggup menceritakan pengalamanku. Makara insya Allah saya sanggup melakukannya hari ini dan bila ini bermanfaat bagi siapapun, semoga Allah menunjukkan hidayah kepada kita semua.
Berasal dari Keluarga Yahudi
Seperti yang kuberitahu, saya tiba di Hawaii 2 tahun yang lalu. Sebelumnya, saya hidup di kota New York. Aku dilahirkan dan dibesarkan di kota New York, lahir pada tahun 1969, dan tumbuh di Kota Manhattan, juga di Brooklyn selama beberapa tahun hidupku. Aku memiliki keluarga dan hidup yang bahagia. Orangtuaku membesarkanku tidak dengan agama manapun, tapi kurasa dengan beberapa nilai-nilai moral dasar. Sebenarnya dilihat dari garis keturunan, latar belakangku yakni Yahudi, tapi saya dibesarkan dalam didikan sekuler. Tidak banyak praktek agama, dan satu-satunya kekerabatan yang kudapat dengan agama yakni dari sisi ayahku, dari nenekku. Ibu dari ayahku yang merupakan Yahudi yang taat. Darinya, saya mencar ilmu beberapa hal, kisah-kisah Bible, kisah-kisah nabi. Untuk waktu yang singkat, orangtuaku bekerjsama memasukkanku ke sekolah Ibrani untuk belajar, tapi saya tidak terlalu nyaman di sana dan dikeluarkan alasannya yakni terlalu banyak bertanya. Makara mungkin inilah sifatku dan hal inilah yang membawaku kepada keadaanku dikala ini.
Komunis di Usia 13 Tahun
Sebagai seorang professor dan muslim, saya terus bertanya banyak hal. Makara saya tumbuh tanpa pondasi agama apapun, dan hal ini terus berlanjut dalam hidupku hingga saya mencapai remaja, hingga saya berumur 13 tahun saya mengalami sesuatu. Nomor satu: Aku membaca “The Communist Manifesto”, karangan Karl Max dan memutuskan bahwa saya seorang komunis pada umur 13 tahun. Kupikir nilai-nilainya cantik dan filosofinya berpotensial untuk menunjukkan manfaat kepada orang banyak. Pada dikala itu juga, kurasa inilah pertama kalinya saya berkenalan dengan Islam sejauh yang kuingat.
Diberi Hadiah Al Qur’an
Teman baikku pada dikala itu berasal dari Pakistan. Aku mencar ilmu di sekolah internasional, jadi saya punya banyak sahabat dari banyak sekali penjuru dunia. Aku punya seorang sahabat Pakistan yang memberikanku sebuah Al Qur’an. Dia ingin saya membacanya, beliau berkata, “Aku tidak ingin kamu masuk neraka.” Dan tentu saja pada waktu itu, aliran wacana nirwana dan neraka tidak terlalu kupikirkan. Dan saya mengambil kitab itu dan menaruhnya di rak bukuku. Dan disitulah kitab itu bertahun-tahun tanpa pernah dibaca.
Selalu Berpikir Kritis
Beberapa tahun kemudian kurasa saya mencicipi kekecewaan, ketika tahu bagaimana komunisme dipraktekkan dalam banyak negara di dunia, jadi saya membuang filosofi itu juga. Dan gres ketika saya masuk kuliah saya menanyakan sebuah pertanyaan yang akan menuntunku secara pribadi kepada jalan ini. Kurasa sudah dari kecil saya selalu berpikir kritis. Aku selalu ingin tahu makna kehidupan dan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti: kenapa kita ada di sini? Kemana kita akan pergi? Kenapa kita menderita? Semua hal itu selalu hadir dalam pikiranku, bahkan ketika saya masih anak-anak.
Kematian Nenek dan Pertanyaan yang Tak Terjawab
jd2Tapi seiring saya tumbuh cukup umur dan ketika saya masuk universitas, saya lebih banyak fokus dalam studiku hingga saya mengalami sesuatu. Ingat dengan nenek yang sebelumnya kusebutkan? Ketika saya kuliah, saya tinggal di Washington D.C. Aku menerima telpon dari sepupuku yang ingin kuliah di Maryland. Dan ini merupakan sebuah kunjungan bagi kakek-nenekku, bagi bibiku, dan sepupuku yang lain, dan mereka mengajakku makan malam. Dan saya menghabiskan sebagian besar waktu malam hanya berbicara dengan nenekku. Aku memberitahu wacana rencanaku untuk mulai mencar ilmu di Cina yang kulakukan pada dikala itu. Aku memberitahu rencanaku untuk kembali ke New York untuk pindah ke Universitas Columbia. Dan saya melihat beliau menunjukkan sebuah pemberkatan pada semua keputusan yang kubuat dalam permulaan hidupku sebagai seorang dewasa.
Pada simpulan malam, saya berjalan bersamanya ke mobilnya, dan di daerah parkir dari restoran itu pergelengan kakinya terpelintir, dan beliau jatuh terpeleset. Aku bertanya padanya, “Nenek, apakah kamu baik-baik saja?”. Dia berkata, “Jangan khawatirkan aku, khawatirkan saja dirimu.” Aku berpikir, “Oke..” Kemudian saya terus berjalan bersamanya ke mobil, saya membuka pintunya, beliau masuk ke dalam, saya mengecupnya dan mengucapkan selamat malam, dan berkata, “Tampaknya lain kali saya berjumpa denganmu yakni pada Hari Thanksgiving, ketika saya kembali dari New York.” Dia berkata kepadaku, “Jika Tuhan mengizinkan.” Dan saya tidak berpikir banyak pada waktu itu. Aku menutup pintunya dan mobilnya jalan. Sepupuku mengantarku kembali ke asrama dan saya pergi tidur.
Keesokan subuhnya saya mendapatkan telpon dari sepupuku. Aku bertanya mengapa beliau menelponku sepagi itu. Dia berkata bahwa nenek sudah meninggal. Aku berkata, “Yang benar?” Kupikir mungkin beliau sedang bercanda. Aku berkata, “Apa yang kamu bicarakan?”. Dan beliau menjelaskan bahwa nenek menerima serangan jantung dalam tidurnya. Dan tentu saja kata-kata terakhirnya masih bergema dalam telingaku. Aku berkata, “Sampai jumpa lagi.” Dan beliau berkata, “Jika Tuhan mengizinkan.” Dan saya berkata, “Apakah kamu baik-baik saja dan beliau berkata, “Jagalah dirimu sendiri.” Makara hingga hari ini saya masih merasa bahwa kunjungan itu tak terduga dan tentu saja kepergian tak terduga baginya. Dan hingga hari ini saya hanya sanggup menerka-nerka apa makna pertemuan dengan nenekku hari itu. Yang menyerupai kukatakan merupakan satu-satunya hubunganku dengan agama.
Aku kembali ke New York untuk pemakamannya, dan itu yakni pemakaman menurut cara Yahudi tradisional dan rabbi (pendeta Yahudi) yang menunjukkan eulogi (pujian pada orang yang meninggal) membicarakan wacana nenekku. “Sarah yakni harta karun yang langka”, katanya. “Dia menyerupai permata dan kini Tuhan telah membawa permata ini kembali pada-Nya.” Aku berkata, “Oke, memang itu yang dikatakan seorang rabbi (pendeta Yahudi)”.
Ketika rabbi (pendeta Yahudi) itu tiba ke rumah kakekku untuk menghormatinya, saya ingin bertanya beberapa pertanyaan pada rabbi itu. Aku ingin bertanya wacana beberapa praktek yang dilakukan dalam rumah Yahudi pada dikala seseorang meninggal, dan beliau berkata, “Jangan khawatir wacana hal-hal itu, itu hanya tradisi.” Aku berkata, “Oke, bagaimana dengan ini? Dalam ceramahmu kamu berkata bahwa nenekku… Aku tidak tahu seberapa baik kamu mengenal dirinya, tapi kamu berkata bahwa beliau diambil oleh Tuhan. Makara dimana beliau sekarang? Dan untuk masalah ini, kemana saya akan pergi? Kemana kamu akan pergi? Kemana kita semua akan pergi? Kenapa kita ada di sini?” Dan semua pertanyaan yang ada dalam hati seorang manusia. Dan rabbi itu, saya sangat mengingatnya, beliau melihat jam tangannya dan berkata, “Aku harus pergi.” Dan kurasa beliau tidak sadar betapa hal itu membuatku marah, dan kurasa beliau juga tidak sadar bahwa semenjak dikala itu beliau membuatku menapaki sebuah jalur yang akan menuntunku hingga keadaanku dikala ini, alasannya yakni saya menjadi sangat tertarik dengan pertanyaan itu. Saat itu, saya ingin mencari tanggapan pertanyaan itu untuk menghormati memori nenekku.
Mempelajari Berbagai Agama
Aku mencoba mencari komunitas Yahudi yang sanggup menjawab pertanyaanku itu. Komunitas yang kutemukan.., pada dikala itu saya berumur 18 atau 19 tahun… Komunitas yang kutemukan tidak membuatku puas. Dan saya menanyakan pertanyaan yang sudah berulang kali kutanyakan semenjak kecil : “Apakah Tuhan hanya untuk bangsa Yahudi?” Hanya ada 20 juta orang Yahudi di dunia, sedangkan ada milyaran orang lain. Tuhan juga membuat mereka, benar kan?
Makara saya mulai mencar ilmu sendiri, saya mulai mempelajari Bible. Dan dikala itu demam isu panas ketika saya berada di Inggris, saya ada di sana untuk magang. Ada beberapa Nasrani Evangelis yang menghampiriku untuk berbincang-bincang, dan tentu saja mereka juga ingin biar saya mendapatkan kepercayaan mereka. Aku berpikir, “Oke, kenapa tidak mencoba Kekristenan?” Aku belum pernah benar-benar memikirkannya. Dan ketika membaca Bible, saya mendapatkan rasa cinta yang besar lengan berkuasa dan rasa hormat kepada Yesus. Tapi mereka menginginkanku untuk melompat lebih jauh. Mereka ingin saya mendapatkan Yesus sebagai Tuhanku dan penyelamatku , tapi hal itu tidak sanggup kulakukan. Yesus bagiku yakni menyerupai seorang abang. Yesus bagiku lebih menyerupai seorang guru. Yesus bagiku yakni seorang Yahudi. Dan saya tidak sanggup mendapatkan yang mereka katakan wacana Yesus. Tapi menyerupai yang kukatakan, saya mendapatkan kekerabatan yang besar lengan berkuasa wacana Yesus. Kupikir, “Oke.., saya tak akan mendapatkan tanggapan apapun untuk pertanyaanku.”
Seorang diri, saya juga mencar ilmu filosofi ketimuran, Budha. Aku membaca Upasnishads dan saya membaca filosofi barat, khususnya Yunani dan Romawi, filosofi Stoic, tapi tak ada yang benar-benar menjawab pertanyaan mendalam yang kupunya.
Dan pada suatu hari, saya kembali ke New York sempurna sebelum perkuliahan semester gres dimulai. Aku berada di Times Square, dan ini pada awal tahun 1990, jadi Times Square sangat berbeda dengan masa sekarang. Saat itu masih agak berantakan. Di sana ada pecandu narkoba, perempuan malam, dan banyak sekali macam pengkhotbah agama. Dan saya ingat sedang berbicara kepada seseorang saya selalu senang membicarakan agama dengan orang-orang seringkali sebagai seorang skeptis. Dan ada seseorang yang merupakan Yahudi pencinta Yesus. Dia memberitahuku apa yang beliau imani, dan saya sudah mendengar hal itu sebelumnya. Pada dasarnya beliau menganut agama Kristen. Dan beliau memintaku untuk berdoa bersamanya, tapi saya berkata, “Maaf, saya tidak mengimani apa yang kamu imani.” Dia berkata, “Tapi kamu beriman pada Tuhan.” Aku berkata, “Kupikir begitu.” Dia berkata, “Kalau begitu, berdoalah bersamaku. Berdoa saja kepada Tuhan.” Dia menempatkan tangannya di bahuku, memejamkan matanya dan mulai bicara kepada Bapa. Ketika matanya terpejam, saya mulai melihat ke sekeliling, dan di pojok saya melihat seseorang dengan jenggot hitam yang panjang, mengenakan jubah putih (jellabiya), sorban putih. Mereka yakni orang Afrika atau orang Afrika Amerika. Tapi sepertinya mereka gres saja membolak-balik halaman Bible. Mereka terlihat menyerupai Noah, Abraham, atau menyerupai itu. Aku berpikir, “Hm… saya seharusnya tidak menilai buku dari sampulnya, dan mengapa tidak bicara dengan mereka?”
Setelah orang Yahudi Nasrani itu selesai berdoa, saya menghampiri mereka dan bertanya, siapakah mereka dan apa yang mereka khotbahkan. Mereka memberitahuku bahwa saya mungkin tak akan tertarik mendengarnya. Aku berkata, “Kenapa tidak?” Mereka berkata, “Karena kamu yakni iblisnya.” Aku berkata, “Benarkah? Aku iblisnya?” Mereka berkata, “Semua orang kulit putih yakni iblis.” Dan saya berkata, “Jika saya iblisnya, biarkan saya bertanya satu pertanyaan saja. Jika saya yakni iblis, kenapa saya begitu haus untuk mengenal Tuhan?” Mereka menjelaskan padaku, “Bahkan iblis pun beriman pada Tuhan.” Aku bertanya pada mereka, “Darimana kalian mendapatkan pengetahuan ini?” (Aku bekerjsama tahu, saya pernah membaca sebuah essay di kampus wacana ‘Malcom X and The Nation of Islam’). Makara saya paham bahwa mereka mungkin yakni bab dari grup Black Nationaalist Movement itu. Tapi saya tetap bertanya apa sumber mereka wacana ini yang menyebutkan wacana sifat setanku. Mereka memberikanku beberapa ayat dari Bible, kurasa dari Alkitab Daniel. Aku berkata, “Tidak, tidak… Jika saya mau Bible, saya sanggup mendapatkannya dari orang Yahudi Nasrani itu atau orang Nasrani lainnya. Bagaimana dengan kitabmu? Bukankah kalian membaca Al Qur’an?” Mereka berkata, “Ya.” Dan mereka memberiku beberapa ayat untuk dibaca dari surat Al Kahfi.
Membaca Al Qur’an untuk Pertama Kalinya
Aku membawa pulang kertas berisi catatan wacana ayat itu dan saya pribadi menuju ke rak dimana ada Al Qur’an yang diberikan padaku 6 tahun yang kemudian oleh temanku, Mansur. Aku mulai membacanya, saya mencari ayat yang diberitahukan oleh mereka, membacanya, dan tentu saja tidak ada ayat yang menyampaikan bahwa saya atau orang kulit putih lainnya yakni iblis. Tapi alasannya yakni saya sudah terlanjur membacanya, maka saya membalik ke halaman awal, dan saya mulai membacanya. Dan saya membaca, membaca, dan membaca hingga karenanya saya tertidur dengan kitab itu di tanganku.
Pada hari berikutnya, saya membaca, membaca, dan membaca ketika ada waktu luang. Dan kapanpun saya punya waktu luang, di antara kegiatan kelas, ketika pergi ke sekolah menggunakan kereta bawah tanah New York, saya terus menerus membaca Qur’an. Qur’an membuat hatiku bergetar dimana kitab lainnya tidak pernah, dan tentu saja Bible tidak sanggup membuatku menyerupai itu. Bahasa Qur’an yang langsung, dan fakta bahwa Tuhan Penguasa Semesta, Sang Pencipta menyerupai yang dijelaskan oleh kitab itu sendiri. Dia pribadi berbicara denganmu dengan sangat intim dan pribadi pada beberapa ayat. Hal itu membuat hatiku bergetar dimana saya tak pernah merasakannya sebelumnya. Dan saya tak sanggup memberitahumu dimana atau kapan tepatnya ada waktu ketika saya membacanya terkadang air mataku mengalir membasahi pipiku. Terkadang ketika saya membacanya, bulu-bulu di tanganku bangun dan juga di tengkukku. Aku tidak sanggup menjelaskan di ayat mana, tapi pada suatu titik saya menyadari bahwa saya sedang membaca firman Tuhan.
Aku Sudah Menjadi Seorang Muslim?
Di sekitar tahun gres pada waktu itu, kurasa Januari tahun 1990, saya bertemu dengan teman-teman semasa SMA. Kami pergi minum kopi dan membicarakan wacana kehidupan masing-masing. Mereka bertanya kepadaku, “Apa yang kamu percayai akhir-akhir ini?” Mereka tahu ketika saya masih komunis, saya mengalami banyak sekali fase sebagai anak muda, dan mereka tahu bahwa saya yakni orang yang tidak terlalu percaya pada apapun. Makara mereka bertanya padaku dan saya berkata, “Aku percaya pada Tuhan.”
Mereka berkata, “Benarkah? Tuhan apa?”
Aku berkata, “Hanya ada satu Tuhan”
Dan mereka berkata, “Darimana kamu tahu wacana ini?” A
ku berkata, “Aku membacanya dari Qur’an.”
Mereka berkata, “Jadi kamu telah membaca Qur’an? Makara kamu benar-benar percaya bahwa ini yakni pesan Tuhan dan Muhammad yakni Rasul Tuhan?”
Aku berkata, “Ya, kurasa begitu.”
Temanku berkata, “Oke, biar kuluruskan hal ini. Kau percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad yakni utusan-Nya?”
Aku berkata, “Ya, saya percaya.”
Dia berkata, “Kau seorang muslim.”
Aku tertawa. Aku berkata, “Aku seorang muslim? Kaulah yang Muslim, alasannya yakni kamu dari Pakistan. Aku hanya seseorang yang percaya adanya Tuhan. Itu saja! Kaulah yang Muslim!”.
“Jika kamu percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa, dan Muhammad yakni utusan-Nya, maka kamu seorang Muslim.”
Dan saya terkejut mendengarnya. Untuk beberapa hari berikutnya, saya harus berpikir apa artinya itu.
Sendirian Belajar Cara Beribadah dari Buku
Kemudian saya menghubungi temanku, Mansur, yang memberiku Alquran ketika saya berumur 13 tahun. Aku dengar beliau bekerja di Universitas Pennsylvania dan berkerja di Muslim Studies Association di sana. Makara saya memintanya apakah beliau sanggup mengirimkan beberapa buku kepadaku. Buku-buku yang menunjukkan pengenalan wacana Islam dan juga bagaimana kehidupan dan syarat-syarat seorang Muslim. Dan beliau mengirimkanku satu buku yang berjudul “Islam in Focus”. Aku tidak ingat siapa nama pengarangnya sekarang, tapi buku ini menyediakan pengenalan yang baik, tidak hanya pada dasar-dasar iman, tapi juga wacana kelima rukun Islam. Aku mencar ilmu caranya sholat, saya mencar ilmu mengucapkan syahadat, saya mencar ilmu caranya berwudhu. Semua hal ini dari buku itu. Dan saya mulai sholat, kurasa kamu sanggup menyampaikan saya seorang Muslim yang tetutup alasannya yakni saya hidup di rumah orangtuaku dikala itu dan saya selalu menutup pintunya ketika sholat. Dan bahkan pertama kalinya saya puasa di Bulan Ramadhan, saya melakukannya benar-benar sendirian. Aku tidak punya komunitas, saya hanya mengira-ngira kapan matahari terbut dan kapan matahari tenggelam, dan makan pada waktu yang diperbolehkan. Makara pada 6-8 bulan pertama kehidupanku sebagai Muslim, saya benar-benar sendirian dan sumber petunjukku yakni Al Qur’an, dan buku-buku para ulama. Dan itulah kisahku memeluk Islam.
Reaksi Keluarga Saat Mengetahui Keislamanku
Pada suatu titik, saya harus memberitahu keluargaku. Makara saya harus keluar dari kesendirian ini. Pada suatu malam ketika makan bersama, saya duduk dengan keluargaku dan saya berkata kepada mereka, “Kalian tahu bahwa saya sering membaca Qur’an.” Mereka berkata, “Ya, kami tahu, kamu membawanya kemanapun.” Aku berkata, “Aku benar-benar mengimaninya. Disamping beriman, ada beberapa praktek yang harus dilakukan sebagai bab dari keimanan itu, yang kuputuskan untuk kuikuti. Makara kurasa itu menjadikanku seorang Muslim.” Reaksi ibuku sangat kuat. Dia menangis. Dan kurasa mungkin beliau bertanya kepada dirinya sendiri, beliau melihat ke ayahku dan berpikir, “Apakah kami melaksanakan hal yang salah? Bagaimana ini sanggup terjadi?” Kurasa reaksi ayahku lebih tenang, beliau mungkin berpikir, “Anakku seorang komunis ketika beliau berumur 13 tahun, beliau menjadi skinhead(sub-budaya Inggris) ketika berumur 16 tahun, beliau melewati begitu banyak fase, mungkin ini hanyalah fase lainnya. “ Dan kurasa ayah dan ibuku merencanakan sesuatu.
Mungkin mereka pikir, ini sebuah fase, tapi ini bukan fase yang asal berlalu begitu saja, kupikir begitu. Dan ibuku sepertinya menyadari bahwa saya serius dan tentu reaksinya yakni merasa takut dan menyesal. Dan kurasa ini sanggup dimengerti, ketika seseorang punya pandangan terdistorsi yang didasari informasi yang salah atau terbatas. Makara mereka yakni tantangan yang terberat dalam tahun pertama itu, yaitu mencoba berkomunikasi dengan orang tuaku. Aku harus mengatakan, Alhamdulillah, mereka sangat pengertian dan penyabar dan kami telah saling memahami lebih baik.
Saat itu, mungkin ibuku khawatir kalau-kalau saya akan menjelma menyerupai monster. Tapi saya berusaha meyakinkannya bahwa semenjak masuk Islam, saya menjadi pelajar yang lebih baik. Kurasa saya menjadi anak yang lebih baik. Kalian tahu, saya bukan anak yang jelek sebelum masuk Islam, mungkin bagi sebagian orang. Belajar dalam jalan ini penting bagi mereka biar sanggup memperbaiki diri sendiri. Dalam kasusku, saya berterima kasih pada orangtuaku dikarenakan telah memberiku nilai-nilai yang sanggup kukenali ketika masuk Islam. Dan sebelumnya saya bukan orang yang jelek dan Insya Allah, Islam telah membuatku menjadi orang yang lebih baik. Makara jalur setiap orang berbeda-beda, bagaimana cara mereka hingga kesana.
Setiap orang punya cara yang berbeda dalam memahami jalan ini. Bagiku hal ini banyak kaitannya dengan mencar ilmu dan mendapatkan ilmu. Kurasa itulah yang menjadi dasar kehidupan. Tujuan dasar Islam yakni untuk mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan wacana diri sendiri. Pengetahuan wacana dunia dan jagat raya, dan pengetahuan wacana kekerabatan kita dengan Allah. Makara ini mendorongku ke dalam karirku. Aku tidak tahu apakah saya akan menjadi professor sekarang, bila tidak menjadi Muslim. Aku tidak menyampaikan bahwa semua orang harus menjadi professor, tapi bagiku ini yakni perjalanan yang panjang dari mencar ilmu dan kini mengajar.
Hikmah 20 Tahun dalam Islam
Seiring berjalannya waktu, saya juga menghormati agama lain juga, yang kupikir takkan kudapat bila saya tidak menempuh jalan Islam ini. Kupikir sesuatu yang harus dimasukkan hati oleh Muslim yang gres adalah: ketika seseorang menjadi Muslim, orang itu tidak menjadi orang yang berbeda. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang-orang membawa sesuatu yang mereka miliki sebelumnya ke dalam Islam. Makara bahkan di antara sahabat-sahabatnya, ada beberapa orang yang punya talenta khusus atau tantangan, dan hal-hal inilah yang harus mereka terus jalani sehabis menapaki jalan ini. Makara begitu juga, kurasa hal ini benar bagiku, ada banyak tantangan dan hidup terus menunjukkan tantangan. Ini hanya membutuhkan kesabaran.
Bagiku ini yakni perjalanan yang sudah hampir 20 tahun. Hanya Allah yang tahu bagaimana dan kapan akan berakhir. Makara nasihatku kepada Muslim yang gres atau bahkan kepada orang-orang yang sudah menjadi Muslim semenjak waktu yang usang yakni tetap bersabar, dan lihatlah apa yang Allah sediakan yang akan mengejutkan kalian. Bukan dengan rasa takut, namun dengan cinta dan harapan.
Jika ada non-Muslim yang mendengarku hari ini, kurasa kamu berhutang pada dirimu sendiri untuk mengetahui sebanyak yang kamu sanggup wacana dunia di sekelilingmu. Islam dipastikan ada di dunia, ini tak terhindarkan, di berita, dan di lingkungan sekitar kita. Dan bila kamu tidak mengenal Muslim manapun, mungkin kamu akan mengenalnya pada suatu waktu.

0 Response to "Nih Dongeng Mengharukan Orang Yahudi Masuk Islam"
Posting Komentar