Nih Dongeng Nabi Luth-Nabi Ishaq-Nabi Ya’Qub Alaihisalam

Kisah Nabi luth-Nabi ishaq-Nabi ya’qub Alaihisalam

8. Nabi Luth Alaihissalam

Nabi Luth Alaihissalam yakni kemenakan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam berhijrah dari kota Harran menuju Palestina bersama istri dan para pengikutnya, Luth bin Harun ikut bersama mereka.

Ibrahim bersama Luth kemudian menuju Mesir di ketika musibah kelaparan melanda Palestina. Setelah musibah itu mereda, mereka kembali dari Mesir dengan membawa ternak yang diberikan raja Mesir kepada mereka. Berhubung padang rumput yang ada tidak mencukupi bagi ternak yang banyak itu, maka sering timbul pertikaian antara gembala-gembala Ibrahim dan gembala-gembala Luth.

Untuk mengatasi pertikaian ini, Ibrahim kemudian memperlihatkan kepada Luth menentukan tempat lain untuk menggembalakan ternaknya. Luth menentukan Yordania, dimana disana terdapat dua kota, yaitu Sadum dan Gomorrah, dan Luth menetap di kota Sadum.

 Nabi Luth Alaihissalam yakni kemenakan Nabi Ibrahim Alaihissalam Nih Kisah Nabi Luth-Nabi Ishaq-Nabi Ya’qub Alaihisalam

Moral penduduk kota Sadum luar biasa rusaknya. Mereka melaksanakan banyak sekali kejahatan, menyerupai merampok, berzina, dan yang paling parah dan belum pernah dilakukan oleh seorang pun di antara belum dewasa Adam, mereka memuaskan nafsu seksual dengan sesama jenis.

Nabi Luth Alaihissalam berdakwah untuk memerangi kezaliman itu. Namun ia tidak berhasil, bahkan istrinya termasuk orang yang melaksanakan penyimpangan kaumnya itu.

Kebiadaban kaum Luth Alaihissalam digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabût: 28-29.

Beberapa malaikat menuju Sadum

Nabi Luth Alaihissalam kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semoga kaumnya diberi azab. Menurut Nabi Luth Alaihissalam, itulah satu-satunya cara untuk membasmi umatnya semoga watak yang rusak itu tidak menyebar ke umat-umat di wilayah lain, disamping sebagai pelajaran bagi umat di sekelilingnya.

Doa Luth terkabul. Beberapa malaikat tiba ke rumah Ibrahim Alaihissalam sebagai tamu yang menyamar dalam bentuk pemuda-pemuda. Mereka memberitakan pada Ibrahim bahwa mereka akan membinasakan penduduk Kota Sadum disebabkan pembangkangan mereka terhadap Nabi Luth Alaihissalam dan perbuatan-perbuatan keji mereka.

Ibrahim sangat terkejut mendengar informasi ini, lantaran disana terdapat putera saudaranya, yaitu Luth. Namun para malaikat itu mengatakan, “Kami tahu bahwa di sana terdapat Luth, dan bahwa kebinasaan tidak terjadi kecuali atas orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah. Adapun Luth dan keluarganya serta para pengikutnya, mereka itu niscaya akan selamat, kecuali istrinya yang akan ditimpa siksaan menyerupai orang-orang kafir, dan kedudukannya sebagai istri Luth tidak sanggup menyelamatkannya, lantaran jelek perbuatannya disamping ia mengkhianati suaminya serta terus membangkang dan berada dalam kekafiran”.

Kisah kedatangan para malaikat kepada Ibrahim Alaihissalam ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabût: 30-32.

Malaikat bertamu ke rumah Luth

Para malaikat itu meninggalkan Ibrahim dan pergi ke kota Sadum. Mereka tiba ke rumah Luth yang tidak mengetahui siapa bergotong-royong para tamunya yang berwajah tampan itu. Hati Luth sangat cemas, lantaran ia khawatir tamu-tamunya itu akan diperkosa oleh kaumnya.

Tersebar informasi di antara kaum Luth wacana kedatangan tamu-tamu yang tampan di rumah Luth, maka segeralah mereka tiba ke sana dengan maksud berbuat maksiat.

Untuk melindungi para tamunya, Luth Alaihissalam berusaha membujuk mereka dengan memperlihatkan putri-putrinya untuk dinikahi dengan syarat mereka tidak mengganggu tamu-tamunya. Namun kaum Luth tetap bersikeras melaksanakan niat mereka.

Ketika mereka tetap pada pendiriannya, maka malaikat-malaikat itu membutakan mata mereka sampai gagallah upaya mereka dalam keadaan terhina. Para malaikat itu pun balasannya mengungkapkan kepada Luth wacana siapa mereka bergotong-royong dan memberitahunya bahwa mereka tiba untuk membinasakan kaumnya sesudah membutakan mata mereka sampai mereka tak sanggup menyelamatkan diri.

Adapun untuk Luth Alaihissalam dan pengikutnya, para malaikat memerintahkan mereka untuk meninggalkan desanya di malam hari, lantaran azab Allah akan diturunkan di waktu subuh. Dan janganlah seorang pun di antara mereka menoleh ke belakang semoga tidak melihat siksaan yang akan terjadi.

Kisah kedatangan para malaikat ke rumah Luth dan perbuatan kaum Luth diceritakan dalam Al-Qur’an surat Hûd: 77-81, Al-Ankabût: 33-34, dan Al-Qamar: 37.

Azab Allah terhadap kaum Luth Alaihissalam

Di waktu subuh, turunlah azab yang amat dahsyat berupa musibah yang sangat mengerikan. Tanah desa tempat tinggal kaum Luth menjadi rendah dan turunlah hujan kerikil dari tanah keras menimpa mereka secara berturut-turut sampai mereka binasa. Hanya Nabi Luth Alaihissalam dan kedua putrinya, serta para pengikutnya yang beriman, yang selamat dari peristiwa tsb.

Siksa Allah telah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim dan fasik.

Kisah azab terhadap kaum Nabi Luth Alaihissalam terdapat dalam surat Al Anbiyâ: 74-75, Hûd: 82-83, dan Al-Qamar: 33-38.

Daerah yang ditimpa siksaan atas kaum Nabi Luth Alaihissalam yakni tempat yang kita kenal kini sebagai Laut Mati atau Danau Luth.
–ooOoo—

9. Nabi Ishaq Alaihissalam

Nabi Ishaq Alaihissalam yakni salah satu putra Nabi Ibrahim Alaihissalam dari istrinya yang berjulukan Sarah. Ishaq yakni kata dalam bahasa Ibrani yang berarti tertawa. Dalam Al Qur’an dikisahkan bahwa Sarah tertawa ketika mendapat keterangan bahwa dirinya akan memperoleh seorang anak laki-laki, sementara usianya sudah sangat lanjut, yaitu 90 tahun.

Tatkala Ibrahim merasa ajalnya hampir tiba, Ishaq belum menikah. Ibrahim tidak ingin menikahkan ia dengan perempuan Kana’an yang tidak mengenal Allah dan absurd di dalam keluarganya. Oleh lantaran itu ia menugaskan seorang pelayan semoga pergi ke Harran, Irak, dan membawa seorang perempuan dari keluarganya. Perempuan itu yakni Rafqah binti Batuwael bin Nahur. Nahur yakni saudara Ibrahim Alaihissalam, sehingga Rafqah yakni putri kemenakan Ibrahim Alaihissalam. Perempuan itu kemudian dinikahkan dengan Ishaq.

Setelah 20 tahun menikah, Ishaq dikaruniai 2 anak kembar, yang pertama diberi nama Al-Aish, yang kedua keluar dengan memegangi kaki saudaranya sehingga ia diberi nama Ya’qub.

Nabi Ishaq Alaihissalam meninggal dalam usia 180 tahun dan dimakamkan di gua tempat ayahnya, Nabi Ibrahim Alaihissalam, dimakamkan, yaitu di kota Al-Khalil.

Kisah Nabi Ishaq Alaihissalam terdapat di Al Qur’an dalam surat Hûd: 69-74, Maryam: 49, dan As-Saffât: 112-113.

–ooOoo—

10. Ya’qub Alaihissalam

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Nabi Ya’qub Alaihissalam yakni putra Nabi Ishaq Alaihissalam, dan ia mempunyai saudara kembar berjulukan Aish. Ayahnya lebih mengasihi Aish saudaranya lantaran ia lahir lebih dulu, sedang ibunya lebih menyayanginya lantaran ia lebih kecil.

Ketika usianya sudah sangat lanjut, Nabi Ishaq tak sanggup melihat lagi. Ia sering dilayani oleh Aish yang bakir berburu dan sering mendapat kijang. Sedang Ya’qub sangat pendiam dan lebih bahagia berada di rumah mempelajari ilmu-ilmu agama.

Perselisihan Ya’qub Alaihissalam dengan saudaranya

Suatu hari, Ishaq menginginkan suatu makanan, ia meminta Aish untuk mengambilkannya. Namun atas suruhan ibunya, Ya’qublah yang lebih dulu mengambilkan masakan itu untuknya. Setelah Ya’qub melayaninya, Ishaq kemudian mendoakannya, “Mudah-mudahan engkau menurunkan nabi-nabi dan raja-raja.”

Doa nabi yakni doa yang mustajab, dan memang kita ketahui dalam sejarah bahwa keturunan Ya’qub kelak akan melahirkan banyak para nabi dan raja.

Aish yang mengetahui bahwa saudaranya telah mendapat doa yang baik dari ayahnya menjadi iri. Ia pun murka dan bahkan mengancam akan membunuh Ya’qub supaya keturunannya tidak ada yang menjadi nabi dan raja.

Mengetahui hal ini, Rafqah kemudian menyuruh Ya’qub semoga mengungsi ke tempat pamannya, Laban bin Batwil, di kota Harran, Irak.

Dalam perjalanan ke rumah pamannya, Ya’qub tidak berani berjalan di siang hari lantaran takut akan ditemukan dan disiksa oleh saudaranya. Ia hanya berani berjalan di malam hari, sedang jikalau tiba waktu siang ia beristirahat. Oleh lantaran itulah ia juga dikenal dengan nama Israil, yang artinya berjalan di malan hari. Kelak keturunannya pun dikenal dengan nama Bani Israil.

Keturunan Ya’qub Alaihissalam

Laban mempunyai dua orang puteri, yang pertama berjulukan Leah, dan yang kedua berjulukan Rahel. Sebenarnya Ya’qub ingin menikah dengan Rahel, lantaran ia lebih cantik. Akan tetapi Laban menyampaikan bahwa bukanlah kebiasaan mereka menikahkan yang kecil sebelum yang besar. Jika Ya’qub ingin menikahi Rahel maka ia harus menikahi Leah lebih dahulu, kemudian bekerja selama 7 tahun kepada Laban semoga sanggup meminang Rahel.

Saat itu aturan menikahi dua gadis sekandung diperbolehkan.

Kepada masing-masing puterinya, Laban memberi seorang sahaya perempuan. Kepada Leah ia menyampaikan sahaya perempuan berjulukan Zulfa, dan kepada Rahel ia menyampaikan sahaya perempuan berjulukan Balhah. Leah dan Rahel kemudian menyampaikan sahaya mereka untuk diperistri pula oleh Ya’qub, sehingga istri Ya’qub menjadi 4 orang.

Dari keempat istrinya ini Ya’qub Alaihissalam memperoleh 12 orang anak lelaki.
Dari istrinya Leah, ia dikaruniai Ruben, Syam’un, Lewi, Yahuda, Yasakir, dan Zabulon.
Dari istrinya Rahel, ia dikaruniai Yusuf dan Bunyamin.
Dari istrinya Balhah, ia dikaruniai Daan dan Naftali.
Dari istrinya Zulfa, ia dikarunian Jaad dan Asyir.

Putra-putra Ya’qub inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya Bani Israil. Mereka dan keturunannya disebut sebagai Al-Asbath, yang berarti cucu-cucu.

Sibith dalam bangsa Yahudi yakni menyerupai suku dalam bangsa Arab, dan mereka yang berada dalam satu sibith berasal dari satu bapak. Masing-masing anak Ya’qub kemudian menjadi bapak bagi sibith Bani Israil. Maka seluruh Bani Israil berasal dari putra-putra Ya’qub yang berjumlah 12 orang.

Dalam sibith-sibith ini kelak diturunkan para nabi, antara lain:

Sibith Lewi, di kalangan mereka terdapat Nabi Musa, Harun, Ilyas, dan Ilyasa.
Sibith Yahuda, di kalangan mereka terdapat Nabi Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa.
Sibith Bunyamin, di kalangan mereka terdapat Nabi Yunus.

Setelah lewat 20 tahun Ya’qub tinggal bersama pamannya, ia pun meminta izin untuk kembali kepada keluarganya di Kana’an. Saat ia hampir tiba di Kana’an, ia mengetahui bahwa Aish saudaranya telah bersiap menemuinya dengan 400 orang, sehingga Ya’qub merasa takut dan mendoakannya serta menyiapkan hadiah besar bagi saudaranya itu yang dikirimkan melalui orang-orang utusannya.

Lunaklah hati Aish mendapat hadiah derma saudaranya. Kemudian ditinggalkannya negeri Kana’an bagi saudaranya kemudian ia pergi ke Gunung Sa’ir.

Sedangkan Ya’qub, ia pergi kepada ayahnya Ishaq dan tinggal bersamanya di kota Hebron yang dikenal dengan nama Al-Khalil.

Dalam Al Qur’an, kisah Nabi Ya’qub Alaihissalam secara tersendiri tidak ditemui, namun namanya disebut dalam kaitannya dengan nabi-nabi lain, diantaranya Nabi Ibrahim Alaihissalam (kakeknya), dan Nabi Yusuf Alaihissalam (putranya).

0 Response to "Nih Dongeng Nabi Luth-Nabi Ishaq-Nabi Ya’Qub Alaihisalam"

Posting Komentar