Nih Dongeng Nabi Daud Dan Nabi Sulaiman Yang Bijaksana
17. Nabi Daud Alaihissalam
Nabi Daud Alaihissalam ialah salah seorang nabi dari Bani Israil, yaitu dari sibith Yahuda. Ia merupakan keturunan ke-13 dari Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Thalut Sang Raja
Sesudah Nabi Harun dan Nabi Musa wafat, kaum Bani Israil dipimpin oleh Nabi Yusya’ bin Nun, yang memang telah ditunjuk oleh Nabi Musa untuk menggantikan dia sesaat sebelum kewafatannya. Berkat kepemimpinan Yusya’ bin Nun mereka sanggup menguasai tanah Palestina dan bertempat tinggal di istana. Namun sehabis Yusya bin Nun wafat, mereka terpecah belah. Isi kitab Taurat berani mereka rubah dan ditambah-tambah. Mereka sering bersilang pendapat sesama mereka sendiri, hingga kesannya hilanglah kekuatan persatuan mereka. Tanah Palestina diserbu dan dikuasai bangsa lain.
Bani Israil menjadi bangsa jajahan yang tertindas. Mereka merindukan datangnya seorang pemimpin yang tegas dan gagah berani untuk melawan penjajah. Pada suatu hari, mereka pergi menemui Nabi Samuel untuk meminta petunjuk. “Wahai Samuel, angkatlah salah seorang di antara kami sebagai Raja yang akan memimpin kita berperang melawan penjajah.”
Tetapi Nabi Samuel menjawab, “Aku khawatir bila sudah menerima pemimpin yang dipilih Allah, kalian justru tidak mau berangkat perang.”
“Kita sudah usang menjadi bangsa tertindas,” kata mereka. “Kita tidak mau menderita lebih usang lagi.”
Karena didesak oleh kaumnya, Nabi Samuel kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala biar tetapkan satu di antara mereka menjadi pemimpin. Doa Nabi Samuel dikabulkan, Allah menentukan Thalut sebagai Raja yang memimpin mereka. Tapi ternyata begitu mendengar nama Thalut diucapkan oleh Nabi Samuel, mereka justru menolak dengan alasan bahwa Thalut tidak begitu dikenal, ia hanya seorang petani biasa yang sangat miskin.
Nabi Samuel kemudian menjelaskan bahwa walaupun Thalut itu petani biasa, namun ia pintar seni administrasi perang, tubuhnya kekar dan kuat, dan pintar wacana ilmu tata negara. Baru kesannya mereka mau mendapatkan Thalut sebagai Raja mereka.
Kisah Jalut dan Daud
Thalut mengajak orang-orang yang tak punya ikatan rumah tangga dan perdagangan ke medan perang. Dengan menentukan orang-orang terbaik itu, ia berharap mereka sanggup memusatkan diri pada pertempuran dan tak terganggu dengan urusan rumah tangga dan perdagangan.
Salah seorang anak muda yang ikut dalam barisan Thalut ialah seorang cukup umur berjulukan Daud. Ia diperintah oleh ayahnya untuk menyertai kedua kakaknya yang maju ke medan perang. Daud tidak diperkenankan maju ke garis depan, ia hanya ditugaskan untuk melayani kedua kakaknya. Tempatnya di garis belakang. Jika kakaknya lapar atau haus, dialah yang melayani dan menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka.
Tentara Thalut bersama-sama tidak seberapa banyak. Jauh lebih banyak dan lebih besar tentara Jalut Sang Penindas (Goliath). Jalut sendiri ialah seorang panglima perang yang bertubuh besar menyerupai raksasa. Setiap orang yang berhadapan dengannya selalu binasa. Tentara Thalut gemetar ketika melihat keperkasaan musuh-musuhnya itu. Demi melihat tentaranya ketakutan, Thalut berdoa kepada Allah, “Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.”
Maka dengan kekuatan doa itu mereka menyerbu tentara Jalut. Tak mengira lawan yang berjumlah sedikit itu mempunyai keberanian bagaikan singa terluka, kesannya pasukan Jalut sanggup diporak-porandakan dan lari tercerai berai.
Tinggallah Jalut Sang Panglima dan beberapa pengawalnya yang masih tersisa. Thalut dan pengikutnya tak berani berhadapan dengan raksasa itu. Lalu Thalut mengumumkan, siapa yang sanggup membunuh Jalut maka ia akan diangkatnya sebagai menantu. Tak disangka dan diduga, Daud yang masih berusia cukup umur tampil ke depan, minta izin kepada Thalut untuk menghadapi Jalut. Mula-mula Thalut ragu, mampukah Daud yang masih sangat belia itu mengalahkan Jalut? Namun sehabis didesak oleh Daud, kesannya ia mengizinkan anak muda itu maju ke medan perang.
Dari kejauhan Thalut mengawasi sepak terjang Daud yang menantang Jalut. Jalut memang sombong. Ia telah berteriak berkali-kali, menantang orang-orang Israil untuk berperang tanding. Ia juga mengejek bangsa Israil sebagai bangsa pengecut dan hinaan-hinaan lainnya yang menyakitkan hati.
Tiba-tiba Daud muncul di hadapan Jalut. Jalut tertawa terbahak-bahak melihat anak muda itu menantangnya duel. Daud tidak membawa senjata tajam. Senjatanya hanya ketapel. Berkali-kali Jalut melayangkan pedangnya untuk membunuh Daud, namun Daud sanggup menghindar dengan gesitnya. Pada suatu kesempatan, Daud berhasil melayangkan peluru ketapelnya sempurna di antara kedua mata Jalut.
Jalut berteriak keras, roboh dengan dahi pecah, dan tewaslah ia. Dengan demikian menanglah pasukan Thalut melawan Jalut. Sesuai janji, Daud kemudian diangkat sebagai menantu Raja Thalut. Ia dinikahkan dengan putri Thalut yang berjulukan Mikyai.
Daud menjadi Raja
Disamping menjadi menantu Raja, Daud juga diangkat sebagai penasihatnya. Ia dihormati semua orang, bahkan rakyatnya seolah lebih menghormati Daud daripada Thalut. Hal ini menciptakan Thalut iri hati. Karenanya ia berusaha mencelakakan Daud ke medan perang yang sulit. Daud ditugaskan membasmi musuh yang jauh lebih berpengaruh dan lebih besar jumlahnya. Namun Daud justru memenangkan pertempuran itu dan kembali ke istana dengan disambut luapan kegembiraan rakyatnya.
Thalut makin merasa iri dan tersaingi atas kepopuleran Daud di mata rakyatnya. Ia terus mencoba membunuh dan menyingkirkan Daud dengan aneka macam cara, namun selalu menemui kegagalan. Daud seolah selalu dilindungi Allah.
Akhirnya terjadilah perang Jalbu’ antara Thalut dan Daud serta pendukung mereka. Dalam peperangan itu Thalut tewas. Setelah selesai hidup Thalut dan putra mahkotanya yang juga mati dalam pertempuran tsb, maka rakyat pribadi mengangkat Daud sebagai Raja Israil.
Mukjizat Nabi Daud Alaihissalam
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan kitab Zabur bagi Nabi Daud Alaihissalam. Selain Zabur, keistimewaan Nabi Daud Alaihissalam lainnya ialah setiap pagi dan senja gunung-gunung bertasbih atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengikuti tasbihnya. Nabi Daud Alaihissalam juga memahami bahasa burung-burung. Binatang juga mengikuti tasbih Nabi Daud Alaihissalam.
Keistimewaannya dalam beribadah ini diterangkan dalam surat Shâd: 17-19 dan Saba‘: 10.
Selain itu kerajaannya yang berpengaruh belum pernah sekalipun sanggup terkalahkan. Sebaliknya, Nabi Daud Alaihissalam selalu menerima kemenangan dari semua lawannya. Ia menduduki takhta kerajaan selama 40 tahun.
Diantaranya mukjizatnya ialah Nabi Daud sanggup melunakkan besi menyerupai lilin, kemudian ia sanggup merubah-rubah bentuk besi itu tanpa memerlukan api atau peralatan apapun. Dari besi itu, ia sanggup menciptakan baju besi yang dikokohkan dengan tenunan dari bulatan-bulatan rantai yang saling menjalin secara berkesinambungan. Jenis baju ini menciptakan pemakainya lebih bebas bergerak, alasannya ialah tidak kaku menyerupai baju besi biasa yang dibentuk dari besi lembaran.
Tentang mukjizatnya ini disebutkan dalam surat Saba‘: 10 dan Al-Anbiyâ’: 80.
Nabi Daud juga dikaruniai bunyi yang sangat merdu sekali. Kitab Zabur yang diturunkan kepadanya selain berisi pelajaran dan peringatan, juga berisi nyanyian puji-pujian kepada Tuhan. Nyanyian ini sering juga disebut dengan Mazmur.
Nabi Daud membagi hari-harinya menjadi 4 bagian. Sehari untuk beribadah, sehari ia menjadi hakim, sehari untuk memperlihatkan pengajaran, dan sehari lagi untuk kepentingan pribadi. Ia juga suka berpuasa. Ia melaksanakan puasa dua hari sekali, sehari berpuasa, sehari lagi tidak.
Peringatan Allah pada Nabi Daud Alaihissalam
Para nabi ialah insan yang menjadi teladan teladan umat. Jika ia melaksanakan kesalahan, maka Allah segera memperingatkannya untuk meluruskan kesalahannya itu. Demikian pula halnya dengan Nabi Daud. Ia mempunyai istri 99 orang. Ketika itu memang tidak ada pembatasan jumlah istri yang boleh dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang lelaki biasa untuk mempunyai banyak istri, terlebih lagi bagi seorang raja. Nabi Daud ingin menggenapkan istrinya menjadi 100 orang.
Pada suatu hari, datanglah dua orang lelaki mengadu kepada Nabi Daud. Seorang di antara mereka berkata, “Saudaraku ini mempunyai kambing 99 ekor, sedang saya hanya mempunyai seekor, tetapi ia menuntut dan mendesakku biar menyerahkan kambingku yang seekor itu kepadanya, supaya jumlah kambingnya menjadi genap 100 ekor. Ia membawa aneka macam alasan yang tak bisa kubantah alasannya ialah saya tak pintar berdebat.”
Daud kemudian bertanya pada lelaki yang satu lagi, “Benarkah ucapan saudaramu itu?”
“Benar,” jawab lelaki itu.
Berkatalah Daud dengan marah, “Jika demikian halnya, maka saudaramu telah berbuat zalim. Aku tidak akan membiarkanmu meneruskan perbuatanmu yang semena-mena itu atau engkau akan menerima eksekusi pukulan pada wajah dan hidungmu!”
“Hai Daud!” kata lelaki itu, “Sebenarnya engkaulah yang pantas menerima eksekusi yang kau ancamkan kepadaku itu. Bukankah engkau telah mempunyai 99 istri? Tetapi mengapa kau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah bertunangan dengan cowok yang menjadi tentaramu sendiri? Padahal cowok itu sangat setia dan berbakti kepadamu.”
Nabi Daud tercengang mendengar ucapan yang tegas dan berani dari lelaki itu. Ia berpikir keras, siapakah sesungguhnya kedua orang ini? Tetapi tiba-tiba kedua laki-laki itu sudah hilang lenyap dari pandangannya. Tahulah Nabi Daud bahwa ia telah diperingatkan Allah melalui malaikat-Nya. Ia segera bertaubat memohon ampun kepada Allah, dan Allah mendapatkan taubatnya.
Pelanggaran terhadap Hari Sabath
Suatu ketika rakyat Nabi Daud Alaihissalam bersepakat untuk melanggar ketentuan yang menyatakan hari Sabtu (Sabath) sebagai hari besar untuk Bani Israil, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Musa Alaihissalam. Hari Sabat dikhususkan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menyucikan hati dan pikiran dengan berzikir dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya, serta memperbanyak amal dan diharamkan melaksanakan kesibukan-kesibukan yang bersifat duniawi.
Penduduk desa Ailat di tepi Laut Merah juga mematuhi perintah itu. Pada hari Sabtu mereka tidak menangkap ikan, tetapi pada hari Sabtu itu justru ikan-ikan di maritim banyak menampakkan diri. Akhirnya penduduk Ailat tidak sanggup menahan diri untuk melanggar larangan hari Sabtu itu. Hari Sabtu mereka gunakan untuk mengumpulkan ikan.
Azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun turun kepada mereka. Wajah mereka diubah menjadi wajah yang amat buruk, kemudian terjadi gempa bumi yang dahsyat. Kisah ini diriwayatkan dalam surat Al-A’râf: 163-166.
Asal-usul Baitul Maqdis
Pada suatu hari, berjangkitlah penyakit kolera di wilayah kerajaan yang dikuasai Nabi Daud Alaihissalam. Banyak rakyat yang mati alasannya ialah penyakit ini. Nabi Daud kemudian berdoa kepada Allah biar menghilangkan wabah ini, maka hilanglah penyakit itu.
Untuk memperlihatkan rasa syukurnya kepada Allah, maka Nabi Daud mengajak putranya, Sulaiman, untuk membangun kawasan suci, yaitu Baitul Maqdis, yang kini kita kenal sebagai Masjidil Aqsha di Yerusalem, Palestina. Tempat inilah yang menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Ka’bah.
–ooOoo—
18. Nabi Sulaiman Alaihissalam
Nabi Sulaiman Alaihissalam ialah putra Nabi Daud Alaihissalam. Setelah Nabi Daud Alaihissalam wafat, Nabi Sulaiman Alaihissalam menggantikannya sebagai Raja. Mukjizatnya yang paling terkenal ialah ia diberi keistimewaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sanggup memerintah bukan hanya kepada manusia, melainkan juga kepada hewan, angin, dan jin. Nabi Sulaiman sanggup mengakibatkan angin bertiup atas perintahnya ke kawasan yang ia kehendaki. Allah pun menundukkan syaitan-syaitan untuk melayani Sulaiman. Di antara mereka ada yang bisa membangun istana dan benteng-benteng, ada yang bertugas menyelam di maritim untuk mengeluarkan mutiara dan batu-batu mulia, sebagaimana Allah memberi kekuasaan pada Sulaiman atas syaitan-syaitan yang kafir sehingga ia bisa mengikat mereka untuk mencegah kejahatan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberinya mukjizat berupa kemampuan mengerti bahasa binatang.
Kearifan Nabi Sulaiman Alaihissalam sebagai hakim
Pada suatu malam, sekelompok kambing memasuki kebun seseorang tanpa sepengetahuan penggembalanya, hingga rusaklah tumbuhan di kebun itu. Maka pemilik kebun kemudian tiba mengadu kepada hakim Daud Alaihissalam. “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami telah membajak tanah kami dan menanaminya serta memeliharanya. Tapi ketika tiba waktu panen, datanglah kambing orang-orang ini pada suatu malam dan memakan tumbuhan di kebun kami hingga habis seluruhnya.”
“Benarkah apa yang dikatakan oleh mereka ini?” tanya Daud. “Ya,” jawab mereka.
Kemudian Daud bertanya wacana harga tumbuhan dari orang yang satu dan harga kambing dari orang yang lain. Ketika mengetahui harga keduanya hampir sama, maka ia pun berkata kepada pemilik kambing, “Berikanlah kambingmu kepada pemilik tumbuhan sebagai ganti rugi bagi mereka atas binasanya tumbuhan mereka.”
Namun putranya Sulaiman yang hadir menyaksikan pengadilan ini memperlihatkan usul lain, “Saya mempunyai pendapat yang berbeda dalam kasus ini. Menurut saya, pemilik kambing sebaiknya memperlihatkan kambing mereka kepada pemilik tanaman, dan mengambil keuntungannya berupa bulu wol, susu, dan belum dewasa kambing tsb. Sedangkan ia sendiri mengambil alih tumbuhan yang telah rusak itu, menanaminya kembali dan mengairi serta memeliharanya hingga tumbuh tanamannya. Apabila telah tiba waktu panen, mereka harus menyerahkan hasil tumbuhan itu kepada pemiliknya, dan mendapatkan kembali kambing mereka. Dengan demikian semua pihak akan mendapatkan laba dan manfaat.”
Luar biasa bijaksana dan arifnya Nabi Sulaiman ini dalam memperlihatkan keputusan. Semua pihak pun pribadi menyetujui usulnya yang ahli itu. Berkatalah Daud pada putranya, “Engkau telah tetapkan aturan dengan tepat, anakku.” Dan ia pun berfatwa menyerupai apa yang diputuskan oleh Sulaiman.
Kisah ini diceritakan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyâ’: 78-79.
Kisah Nabi Sulaiman Alaihissalam dan Ratu Bilqis
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengadakan apel besar bagi seluruh bala tentaranya, baik dari golongan manusia, jin, syetan, dan binatang, semua diperintahkan untuk berkumpul menghadap Nabi Sulaiman Alaihissalam. Semua sudah hadir kecuali seekor burung berjulukan Hudhud.
“Mengapa burung Hudhud belum datang?” tanya Nabi Sulaiman. “Sesungguhnya kalau ia tidak bisa memberi alasan yang terperinci atas keterlambatannya, sebagai eksekusi saya akan menyembelihnya.”
Tak berapa usang kemudian burung itu tiba dan bersujud di hadapan nabi Sulaiman. Hampir saja burung itu terkena eksekusi kalau tidak segera mengajukan alasa kenapa ia terlambat datang.
“Ampunilah hamba Tuanku, hamba memang telah terlambat. Tetapi hamba membawa kabar yang sangat penting. Di negeri Saba hiduplah seorang Ratu yang berjulukan Ratu Bilqis. Ia mempunyai singgasana yang agung. Kerajaannya luas dan rakyatnya hidup dengan makmur. Namun sayang mereka tidak menyembah Allah. Mereka disesatkan oleh iblis sehingga menyembah matahari.”
Menjawablah Nabi Sulaiman, “Aku percaya dengan isu yang kaubawa itu. Tetapi saya akan mengusut dulu kebenaran beritamu. Bawalah suratku untuk Ratu Bilqis. Kalau sudah diterimanya nanti, sembunyilah kau di celah-celah jendela, dan dengarkanlah apa yang akan dilakukannya.”
Maka terbanglah burung Hudhud ke negeri Saba yang terletak di kota Yaman. Ia menyerahkan surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis. Kemudian sesuai perintah, ia bersembunyi di balik celah jendela. Ratu Bilqis membaca surat itu, isinya kurang lebih menyerupai ini:
Surat ini tiba dari Sulaiman. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
Setelah membaca surat itu, Ratu Bilqis memanggil seluruh abdi dan penasihatnya untuk bermusyawarah. Ratu Bilqis tidak ingin terjadi peperangan yang hanya merusak keindahan istana dan merugikan rakyat. Maka sebagai hasil dari musyawarah itu, diputuskan bahwa ia hanya akan mengirimkan hadian kepada Sulaiman melalui utusannya. Jika Sulaiman mendapatkan hadiahnya, tahulah ia bahwa Sulaiman hanyalah seorang raja yang bahagia mendapatkan hadiah. Tetapi kalau ia seorang nabi, ia hanya ingin biar mereka mengikuti agamanya.
Berangkatlah utusan Ratu Bilqis ke Palestina dengan membawa aneka macam hadiah yang indah-indah dan mahal-mahal. Ketika mereka hingga di istana Nabi Sulaiman, mereka sangat tercengang. Kerajaan Saba tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keindahan dan kemegahan kerajaan Sulaiman.
Ketika para utusan itu hendak menyerahkan hadiah mereka, dengan tegas Nabi Sulaiman menolak hadiah-hadiah itu alasannya ialah ia mempunyai harta benda yang jauh lebih baik daripada hadiah yang diberikan oleh Ratu Bilqis. Kepada para utusan tsb, ia meminta kedatangan Ratu Bilqis biar Ratu itu memeluk agama Islam dan meninggalkan penyembahan terhadap matahari. Jika menurut, maka kerajaan Saba akan selamat, kalau membangkang maka Nabi Sulaiman akan mengerahkan bala tentaranya yang mustahil akan dilawan oleh Ratu Bilqis.
Para utusan itu segera kembali ke Negeri Saba. Mereka melaporkan segala apa yang dilihatnya wacana Sulaiman dan kerajaannya yang jauh lebih besar, megah, dan berpengaruh dibanding negeri Saba. Akhirnya diputuskanlah bahwa Ratu Bilqis akan tiba memenuhi seruan Nabi Sulaiman Alaihissalam.
Sulaiman mengetahui perjalanan Bilqis menuju ke negerinya, maka ia pun bermaksud memperlihatkan suatu mukjizat kepadanya sebagai bukti atas kenabiannya. Sulaiman bertanya kepada jin yang ada di dekatnya, “Siapakah yang sanggup mendatangkan singgasana Bilqis kepadaku untuk melihat kekuasan Allah berlangsung di hadapan mereka?”
Jin Ifrit berkata, “Aku sanggup membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari kawasan dudukmu.”
Akan tetapi ada seorang anak buah Sulaiman lainnya yang berjulukan Ashif bin Barkiya yang mempunyai ilmu dari kitab-kitab Samawi berkata, “Aku sanggup mendatangkannya lebih cepat dari kejapan mata.”
Maka tiba-tiba saja singgasana itu pun telah ada di hadapan Nabi Sulaiman Alaihissalam.
Sementara itu dengan diiringi ribuan prajurit, Ratu Bilqis penguasa Saba tiba menemui Nabi Sulaiman di Palestina. Ia benar-benar tercengang menyaksikan keindahan dan kemegahan kerajaan Nabi Sulaiman. Ratu Bilqis merasa aib mengingat betapa dulu ia telah mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman untuk melunakkan hatinya biar Nabi Sulaiman tidak menyerang Negeri Saba.
Ketika ia masuk ke istana Nabi Sulaiman, Nabi Sulaiman bertanya, “Apakah singgasana ini serupa dengan singgasana kerajaanmu?”.
“Ya, tampaknya memang milikku,” kata Ratu Bilqis seraya mengusut singgasana itu. Setelah memeriksanya, kesannya ia yakin bahwa itu memang singgasananya. Maka berkatalah ia kepada Sulaiman, “Sesungguhnya saya telah mengetahui kekuasaan Allah dan kebenaran kenabianmu sebelum ini, yaitu tatkala tiba burung Hudhud membawa surat darimu. Namun yang menghalangi-halangi kami untuk menyatakan keimanan kami ialah alasannya ialah kami hidup di tengah-tengah kaum yang sudah mendalam kekufurannya. Itulah yang menciptakan kami menyembunyikan keimanan kami hingga ketika ini kami tiba menghadapmu.”
Nabi Sulaiman tersenyum kemudian mempersilakan Ratu Bilqis memasuki istananya. Lantai di istana itu terbuat dari beling tipis yang di bawahnya dialiri air. Ratu Bilqis mengira itu benar-benar aliran air sungai, karenanya ia menyingkapkan sedikit kainnya hingga nampaklah betisnya. Nabi Sulaiman segera memberitahu bahwa lantai itu terbuat dari beling putih yang tipis. Ratu Bilqis tersipu malu. Serta merta ia bersujud dan menyatakan keimanannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Ya Tuhanku, sesungguhnya saya telah berbuat zalim terhadap diriku, dan saya berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”
Wafatnya Nabi Sulaiman Alaihissalam
Hampir tak seorang pun mengetahui ketika selesai hidup Nabi Sulaiman, baik dari golongan jin maupun manusia. Kematian Nabi Sulaiman Alaihissalam gres diketahui sehabis tongkat yang digunakannya bersandar ringkih dimakan rayap dan dia jatuh tersungkur ke lantai.
Doa Nabi Sulaiman telah dikabulkan Allah, yaitu tidak ada seorang pun yang mempunyai kerajaan besar dan kaya raya menyerupai kerajaannya. Namun meskipun kaya raya dan berkuasa, Nabi Sulaiman tetap patuh dan tunduk pada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kisah Nabi Sulaiman Alaihissalam terdapat dalam Al-Quran surat An-Naml: 15-44, dan Saba‘: 12-14.
Related Posts
