Nih Tokoh Dunia Yang Menjadi Mualaf
Muallaf yaitu sebutan bagi orang yang gres masuk Islam. dan masih awam dalam Ilmu agama Islam, Sedangkan dalam bahasa Arab, Mualaf artinya yaitu orang yang berserah diri, tunduk dan pasrah. Seseorang yang gres masuk Islam biasanya sebab pilihan dan menerima hidayah dari Allah SWT, Biasanya para Muallaf yang Islam sebab Hidayah Allah SWT mereka akan selalu benar-benar mendalami fatwa Islam.
Berikut ini yaitu 10 Muallaf yang paling besar lengan berkuasa di dunia:
Abu Ameenah Bilal Philips, merupakan seorang mualaf yang mengabdikan dirinya pada pendidikan Islam. Ia sangat terpesona pada agama yang dibawa Rasulullah ini hingga mempelajarinya ke Haramain, tanah kelahiran Islam. Setelah mumpuni berislam dari Universitas Madinah dan Universitas King Saud Riyadh, ia pun menjadi dosen teologi Islam bahkan membentuk Islamic Online University yang berpusat di Qatar.
1. Bilal Philips
Abu Ameenah Bilal Philips, merupakan seorang mualaf yang mengabdikan dirinya pada pendidikan Islam. Ia sangat terpesona pada agama yang dibawa Rasulullah ini hingga mempelajarinya ke Haramain, tanah kelahiran Islam. Setelah mumpuni berislam dari Universitas Madinah dan Universitas King Saud Riyadh, ia pun menjadi dosen teologi Islam bahkan membentuk Islamic Online University yang berpusat di Qatar.
Bilal lahir di Jamaika di tengah keluarga intelek. Kedua orangtuanya merupakan guru, kakeknya bahkan seorang pendeta dan pakar Al Kitab. Tak heran kalau Bilal tumbuh menjadi seorang Kristen yang taat. Di usia 11 tahun, Bilal ikut keluarganya pindah ke Kanada. Di kota itulah ia kemudian mengenyam pendidikan dan tumbuh dewasa.
Bilal dan keluarganya sempat pindah ke Malaysia. Disanalah kontak pertama Bilal dengan Islam. Namun Bilal belum tertarik pada agama rahmatan lil alamin ini. Saat itu Bilal masih masih sangat muda dan lebih suka bermain musik rock ketimbang memikirkan agamanya.
Tak lama, ia dan keluarga kembali ke Kanada. Saat Bilal kuliah, perjaka tengah digandrungi pesta ganja. Namun Bilal tak ikut serta, fenomena itu justru membuatnya mengambil pelajaran biokimia disamping kuliah seni yang ia sanggup dengan beasiswa.
Pencarian jati diri Bilal belum berakhir, di kampus ia tertarik dengan politik mahasiswa. Ia pun terlibat dalam agresi mahasiswa. Ia pun kemudian berguru sosialisme kemudian tergila-gila dengan Marxis-Leninis. Ia pun kemudian menekuni sosial-pilitik hingga pergi ke California. Ia bergabung dengan para pencetus kulit gelap disana.
Namun Bilal dikecewakan sebab teman-temannya merupakan pecandu narkoba. Sikap anti-narkoba Bilal masih berakar kuat. Ia pun beralih haluan dan kembali ke Kanada. Bilal mempelajari ideologi lain. Ia kemudian terpesona pada komunisme di China. Sosialisme rupanya mengakar kuat pada hati Bilal.
Ia pun pergi ke Cina untuk menerima training perang gerilya pendukung komunisme. Namun setibanya disana, Bilal mencicipi hal sama dikala ia bergabung dengan sosialis di California. Hanya saja kali ini bukan narkoba. Teman-teman komunisnya merupakan para perokok berat. Ia pun kembali kecewa. Ia kembali ke Kanada.
Saat kembali ke kampus, salah seorang sahabat perempuannya di kelompok mahasiswa dikabarkan memeluk Islam. Ia pun kemudian mulai mempelajari fatwa Islam. Ia membaca banyak literatur Islam dan ada satu buku yang memberikannya banyak dampak bagi hatinya. Buku tersebut bertajuk “Islam; agama yang disalahpahami” karya Muhammad Qutb.
Tak hanya mempelajari ajarannya, Bilal juga mempelajari sejarahnya. Ia pun terpesona dengan tugas muslimin dalam pembebasan negara-negara Afrika dari kolonialisme Eropa. Bilal makin mencicipi ketertarikan pada Islam. Ia pun mulai membela Islam hingga kemudian tetapkan bersyahadat. “Aku mulai membela Islam. Akhirnya beberapa introspeksi dan refleksi membuat saya memeluk Islam pada tahun 1972,” ungkapnya dalam biografinya di Saudi Gazzette.
Setelah berislam, Bilal ingin menyempurnakan pengetahuannya wacana Islam. Tak puas mempelajari otodidak, Bilal pun tetapkan pergi ke tanah kelahiran Islam, Arab Saudi. “Saya bergabung dengan Universitas Madinah dan mengambil gelar dalam Usoolud Deen (disiplin Islam) pada tahun 1979. Kemudian mengambil MA dalam teologi Islam dari Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan menuntaskan Ph.D., dalam Teologi Islam di tahun 1994,” kata Bilal yang sangat haus mempelajari ilmu.
Setelah menjadi pakar Islam, Bilal pun membagi ilmunya di banyak negara. Ia menjadi guru di Riyadh, menjadi dosen di UEA hingga berdakwah di Filiphina. Enggan membuang waktu, ia pun kemudian membangun kampus sendiri dengan pengajaran online, yakni Islamic Online University yang berpusat di Qatar.
2. Malcolm X (el-Hajj Malik el-Shabazz)

Malcolm X atau nama Muslim nya el-Hajj Malik el-Shabazz yaitu seorang keturunan Afrika-Amerika dan pencetus hak asasi manusia. Malcolm X lahir pada tanggal 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska. Ibunya, Louise Norton Little, seorang ibu rumah tangga sibuk dengan delapan anaknya. Ayahnya, Earl Little, yaitu seorang pendeta baptis dan anggota UNIA (Universal Negro Improvement Association) yakni sebuah organisasi yang dirintis oleh Marcos Aurelius Garvey untuk mewadahi perbaikan hidup bagi orang kulit hitam.
Malcolm yaitu seorang siswa yang cerdas dan fokus. Namun, ketika seorang guru favorit Malcolm menyampaikan impiannya menjadi pengacara yaitu sesuatu yang tidak mungkin bagi ras kulit hitam, ia kehilangan ketertarikannya pada sekolah. Ia berhenti sekolah di usia 15 tahun dan menghabiskan beberapa waktu di Boston, Massachusetts bekerja serabutan dan kemudian pergi ke Harlem, New York.
Pada usia 20 tahun ia ditangkap dan dieksekusi atas tuduhan pencurian, dan Malcolm dijatuhi sanksi 10 tahun penjara. Namun, dari balik tembok penjara ini, ia justru menemukan apa yang dinamakan pencerahan diri, mulai dari membaca dan menulis di dalam penjara Chalestown State. Ketika di penjara, Ia sering menerima kunjungan dari saudaranya, Hilda yang kesannya memperkenalkan Malcolm pada fatwa Islam Sunni. Kemudian ia tetapkan untuk masuk Islam dan berguru pada pimpinan Islam sunni pada dikala itu, Elijah Muhammad. Berkat Elijah-lah ia memahami ketertindasan dan ketidakadilan yang menimpa ras hitam sepanjang sejarah. Sejak itulah Malcolm X menjadi seorang napi yang kutu buku mulai dari menekuni sastra, agama, bahasa, dan filsafat.
Pada tahun 1964, sehabis menunaikan ibadah haji, Malcolm X mendapatkan gambaran yang berbeda atas pandangannya selama ini. Apalagi, sehabis berjumpa dengan kaum Muslimin dari seluruh dunia, dari aneka macam ras, bangsa, dan warna kulit yang semua memuji Tuhan yang satu dan tidak saling membedakan. Malcolm berkata, ''Pengalaman haji yang saya alami dan lihat sendiri, benar-benar memaksa saya mengubah banyak rujukan pikir saya sebelumnya dan membuang sebagian pemikiran saya. Hal itu tidaklah sulit bagi saya.''
Kata-kata ini sebagai bukti bahwa dirinya mengubah pandangan hidup, dari memperjuangkan hak sipil orang negro ke gagasan internasionalisme dan humanisme Islam. Malcolm X pun mulai meninggalkan ideologi separatisme kulit hitamnya dan beralih ke fatwa Islam yang sesungguhnya. Ia juga mengganti namanya menjadi el-Hajj Malik el-Shabazz. Kendati berganti nama, Malcolm X jauh lebih terkenal ketimbang nama barunya. Malcolm menegaskan bahwa kaum Muslim kulit gelap berasal dari leluhur kaum Muslim yang sama. Perjalanan haji, ungkap dia, telah membuka cakrawala berpikirnya dengan menganugerahkan cara pandang gres selama dua pekan di Tanah Suci.
''Saya melihat hal yang tidak pernah saya lihat selama 39 tahun hidup di Amerika Serikat. Saya melihat semua ras dan warna kulit bersaudara dan beribadah kepada satu Tuhan tanpa menyekutukannya. Benar pada masa kemudian saya bersikap benci pada semua orang kulit putih. Namun, saya tidak merasa bersalah dengan perilaku itu lagi, sebab kini saya tahu bahwa ada orang kulit putih yang nrimo dan mau bersaudara dengan orang negro,'' (Malcolm X)
Pada 28 Juni 1964 mendirikan Organization of Afro-American Unity di New York. Melalui organisasi ini, ia menerbitkan Muhammad Speaks yang kini diganti menjadi Bilalian News [Muslim Kulit Hitam].
Namun, ia tak sempat usang menikmati usahanya dalam memperjuangkan Islam yang lebih baik lagi. Pada 21 Februari 1965, dikala akan memberi ceramah di sebuah hotel di New York, Malcolm X tewas ditembak oleh tiga orang Afro-Amerika. Sebuah kelompok yang ia perjuangkan wacana nilai-nilai dan hak-hak warga kulit hitam. Tak ada yang tahu, apa motif di balik penembakan itu. Tapi, cita-cita Malcolm X untuk membuatkan visi anti-rasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis hingga kini terbilang sangat berhasil.
3. Ingrid Mattson
Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Nasrani Roma yang sangat taat. Waktu kecil ia tumbuh sebagai anak yang rajin melaksanakan misa harian.
"Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana," ujar Ingrid dalam buku 'Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44.
Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru tetapkan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid menentukan fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan menentukan jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.
Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, ia berkelana ke aneka macam museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, ia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.
Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang ia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di dikala para muslim tersebut menghadapi prasangka jelek di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Al-quran. "Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang," ujarnya.
Sejak dikala itu, Mattson mulai menggali wacana ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam yaitu semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri hingga pada cara bersikap terhadap belum dewasa dan tetangga.
Di tahun 1986, ia kemudian tetapkan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.
Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang semenjak remaja dari dalam dirinya. "Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas," ujar Mattson.
Pada tahun 1987, Mattson kemudian tetapkan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson kesannya menemukan seorang perjaka yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya tetapkan menikah.
Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.
Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wapres ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan mempunyai reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden perempuan pertama dalam organisasi itu.
Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di aneka macam media Barat. Hal ini karena namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inagurasi Barack Obama, sehabis kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.
Saat itu, Mattson masih menjabat sebagai presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada program doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC, sehari sehabis peresmian Obama sebagai presiden AS ke-44.
Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA sebab diduga mempunyai jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.
Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan mempunyai bukti-bukti dan kesaksian yang sanggup menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya.
4. Yusuf Islam (Cat Steven)
Yusuf Islam (Cat Stevens) lahir dengan nama Stephen Demetre Georgiou, London, 21 Juli 1948, dan kini berjulukan dikenal sebagai seorang penyanyi dan penulis lagu dari Britania Raya.
Pada awal karir musiknya, Georgiou mengambil nama Cat Stevens. Sebagai Cat Stevens, ia berhasil menjual 40 juta album, kebanyakan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Lagu-lagunya yang paling terkenal termasuk "Morning Has Broken", "Peace Train", "Moonshadow", "Wild World", "Father and Son", "Matthew and Son", dan "Oh Very Young".
Cat Stevens menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada tahun 1978 sehabis mengalami near-death experience (pengalaman mendekati kematian). Ia kemudian mengambil nama Yusuf Islam dan menjadi seorang pendakwah vokal agamanya yang baru. Satu dasawarsa kemudian ada kontroversi ketika ia melontarkan pernyataan mendukung fatwa yang dikeluarkan menentang penulis Salman Rushdie, dan pada tahun 2004 namanya kembali dibicarakan lagi sehabis ia ditolak masuk Amerika Serikat sebab nama ditemukan pada sebuah daftar dihentikan terbang (no-fly list). Ternyata terjadi kekeliruan dan yang dicari yaitu orang lain berjulukan Youssouf Islam.
Yusuf Islam kini tinggal di London bersama istri dan lima anaknya di mana ia seorang anggota jamaah yang aktif. Ia mendirikan yayasan kemanusiaan Small Kindness yang mulanya menolong korban kelaparan di Afrika dan kini membantu ribuan anak yatim dan keluarga di Balkan, Indonesia, dan Irak.
5. Muhammad Ali (Cassius Marcellus Clay, Jr.)
Muhammad Ali terlahir dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr,. Ia yaitu mantan seorang petinju professional yang di juluki sebagai "Phantom Punch" sebab mempunyai kecepatan pukulan yang luar biasa. Dan ia merupakan petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat sebanyak 3 kali dan masuk dalam daftar 10 Petinju terbaik sepanjang masa.
Pada 25 Februari 1964 Ali berhasil merebut gelar Juara Dunia Pertamanya dari Sonny Liston di Florida, Amerika Serikat dan tak usang sehabis pertandingan tersebut ia mengumumkan nama dan agama barunya kepada publik dan menyatakan telah bergabung dalam kelompok Nation of Islam yang merupakan organisasi kontroversial di Amerika Serikat.
Dan pada tahun 1975 ia keluar dari NOA dan secara resmi mengumumkan dirinya masuk ke Islam Sunni. Selama memeluk agama islam, Ali mendapatkan banyak cobaan dan ia telah menjadi objek penindasan bagi pers di Amerika Serikat.Namun hal itu malah membuat ia bertambah kuat dan mulai membuat banyak orang menyadari betapa kuat dampak islam terhadap pribadi seseorang.
6. Yusuf Estes (Joseph Estes)
Yusuf Estes yaitu seorang mantan Pendeta Kristen Katholik yang sangat ulet dalam membuatkan agama Katholik. Yusuf Estes lahir pada 1 Januari 1944 dengan nama Joseph Estes dari dan di besarkan dalam lingkungan keluarga Katholik yang taat. Hal itu terlihat dari bantuan keluarga Estes dalam membangun gereja-gereja dan sekolah-sekolah kristen di Texas. Selain menjadi seorang pendeta, ia juga merupakan seorang musisi rohani yang ulet memproduksi musik-musik rohani guna memberi keyakinan yang lebih mendalam bagi umat Katholik. Ia mempunyai beberapa studio rekaman dan puluhan toko yang menjual peralatan musik. Kaprikornus sanggup di simpulkan Joseph Estes yaitu seorang katholik yang taat dan kaya raya.
Setelah mengalami rangkaian dongeng yang cukup panjang, pada tahun 1991 secara resmi ia masuk Islam dan berganti nama menjadi Yusuf Estes. Selang beberapa menit, istrinya pun dengan hati yang nrimo mengikuti jejak suaminya dan di ikuti dengan ayahnya, anak-anaknya dan beberapa keluarga terdekatnya.
Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas berguru di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk belum dewasa bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita wacana kisah-kisah para Nabi.
Yusuf terlibat aktif di aneka macam aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara semenjak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar.
7. Taqi Takazawa
Yakuza merupakan kelompok durjana ternama di jepang. Selama 20 tahun profesi sebagai pegawai tato durjana yakuza dijalani oleh Sheikh Abdullah Taqi Takazawa.
Sheikh Abdullah Taqi Takazawa menjadi imam masjid di sebuah masjid kecil yang terletak di area kota kabukicho, Shinjuku, Tokyo. Taqi Takazawa telah mengucap dua kalimat Syahadat dan mulai menganut fatwa islam semenjak tahun 2010.
Taqi Takazawa mulai mengenal islam, dikala dirinya melihat seseorang dengan kulit dan janggut putih. Dan orang itu mengenakan baju dan turban warna putih dan memperlihatkan sebuah kertas berisi dua kalimat syahadat untuk dibaca.
Meski tak paham secara keseluruhan, Takazawa pernah mendengar sepintas Allah dan Muhammad. Seperti kebanyakan penduduk Jepang, Takazawa menganut aliran kepercayaan Shinto.
Pertemuan dengan orang serba putih itu membekas di ingatan Takazawa. Dua tahun sehabis memeluk Islam, ia bertemu lagi dengan sosok inspiratifnya itu. “Ternyata ia pernah menjadi Imam di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Saya bersyukur sanggup bertemu dengannya,” katanya.
Daniel Streich yaitu salah seorang anggota partai rakyat Swiss atau SWF di Switzerland. Ia merupakan politikus terkenal sebab sikapnya yang menentang keras pembangunan masjid-masjid di seluruh swiss. Seorang politikus terkenal, sebab sikapnya yang keras menentang pembangunan menara Mesjid di seluruh negara Swiss. Ia secara aktif menggalang sentimen anti-Muslim di seantero Swiss. Karena kampanyenya yang demikian kerasnya menentang Islam, ia menempati posisi rangking teratas di Swiss Army.
8. Daniel Streich
Daniel Streich yaitu salah seorang anggota partai rakyat Swiss atau SWF di Switzerland. Ia merupakan politikus terkenal sebab sikapnya yang menentang keras pembangunan masjid-masjid di seluruh swiss. Seorang politikus terkenal, sebab sikapnya yang keras menentang pembangunan menara Mesjid di seluruh negara Swiss. Ia secara aktif menggalang sentimen anti-Muslim di seantero Swiss. Karena kampanyenya yang demikian kerasnya menentang Islam, ia menempati posisi rangking teratas di Swiss Army.
Streich yaitu orang penting di Partai Rakyat Swiss (SVP). Perannya sangat vital di partai itu, hingga keputusannya sangat menentukan terhadap kebijakan partai. Gerakannya melawan pembangunan menara Mesjid yaitu untuk mendapatkan perhatian publik dan menarik minat mereka. Ia bahkan sempat mengusulkan untuk menutup semua Mesjid di Swiss. Ia memenangkan slot military instructor di Militer Swiss sebab popularitasnya. Ia juga berkomitmen untuk partainya, SVP, dan berdiri sebagai politisi lokal di komune Bulle.
Daniel berusaha mengerti dan mempelajari Alqur’an dan ajaran-ajaran Islam secara komprehensif dengan tujuan untuk berargumen menentang, memfitnah dan menyerang Islam. Namun kemudian fatwa Islam memberi dampak yang mendalam terhadap dirinya Akhirnya ia mereka ulang hubungannya dengan acara partai politik dan kemudian ia memeluk Islam. Streich mengumumkan ke-Islam-an dirinya secara terbuka di depan publik, dan untuk itu oleh pencetus SVO,--aktivis penentang Muslim--Streich dijuluki setan.
Streich kini lebih memfokuskan perhatiannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan Partai Demokratik Baru (new Conservative Democratic Party) di kanton Freiburg. Berbeda dengan gerakan sebelumnya, Gerakan gres Freich (Freich's new movement) lebih memfokuskan diri pada pembangunan toleransi, mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan kerjasama dalam kehidupan, meskipun telah menjadi kenyataan bahwa pelarangan menara Mesjid telah memperoleh status hukum.
Ia yang sebelumnya telah menentang pembangunan menara Mesjid, kini malah berharap akan terwujudnya pembangunan Masjid kelima di Swiss, dan akan menjadi masjid paling indah di Eropa.
9. Willfred Hoffman
Willfred Hoffman yaitu seorang tokoh penting di Jerman yang lahir pada 16 Juli 1931 dan di besarkan di keluarga Katholik. Pada tahun 1957 ia mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Undang-Undang di Munich University, Jerman dan 3 tahun sehabis itu ia meraih gelar Magister di Hardvard University dalam bidang Undang-Undang Amerika. Pada tahun 1961-1994 Hoffman bekerja di Kementrian Luar Negeri Jerman dengan menjadi Duta Besar. Ia juga pernah mendapatkan jabatan penting dimana ia menjadi Direktur Penerangan NATO di Brussels.
Pada 25 September 1980, di Islamic Center Colonia dengan keyakinan yang teguh ia pun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat dan berganti nama menjadi Murrad Hoffman. Hoffman mengambil nama Murad sebab "Murad artinya 'yang dicari', dan pengertiannya yang lebih luas yaitu 'tujuan', yaitu tujuan tertinggi hidup Willfred Hoffman." Setelah masuk Islam, ia masih tetap bekerja untuk Jerman, namun di samping pekerjaannya ia menulis beberapa buku yang laku di pasaran dan telah di cetak dalam aneka macam bahasa. Pada tahun 1994, ia tetapkan untuk pensiun dan tinggal di Turki bersama keluarganya untuk mengenal lebih dalam wacana Islam.
10. Suhaib Webb
Pada usia 14 tahun, krisis keyakinan dalam diri Webb berkembang menjadi pada ketidakpercayaan pada agama yang dipeluknya, dan mulai terlibat kenakalan dan bergabung dengan sebuah geng lokal. Ia juga menjadi seorang DJ hip-hop dan produser lokal yang sukses, serta melaksanakan rekaman bersama sejumlah artis.
Namun demikian, dengan semua itu, Webb mengaku tak bahagia. "Aku sukses secara materiil, namun secara interal merasa kosong," katanya. Kekosongan itu membuatnya kerap merasa tertekan dan sedih. "Padahal hidupku dikelilingi uang, perempuan, klub, dan geng yang hebat. Semua berjalan dengan baik,' katanya.
Setelah masuk Islam, Webb meninggalkan karirnya di dunia musik yang telah menghidupinya itu. Ia mengikuti gairahnya menyelami dunia pendidikan. Setelah memperoleh gelar sarjananya di University of Central Oklahoma, ia berguru intensif mengenai ilmu-ilmu Islam dari seorang ulama terkenal berdarah Senegal.
Lalu, semenjak 2004 hingga 2010, Webb mendalami Islam di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo. Selama periode tersebut, sehabis beberapa tahun berguru bahasa Arab dan aturan Islam di sana, ia menjadi kepala Departemen Penerjemahan Inggris di Darul Iftah al-Misriyyah. Di luar disiplin ilmu yang ditekuninya, Suhaib menuntaskan hafalan Alqurannya di Makkah, dan telah mendapatkan sejumlah ijazah (lisensi yang memperlihatkan standar keulamaan yang tinggi).
Kini, Suhaib Webb yaitu Muslim Amerika yang juga dikenal sebagai pendidik, aktivis, dan dosen. Karya-karyanya menjembatani pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Ia membidik isu-isu relevansi budaya, sosial, dan politik bagi kelangsungan Muslim di Barat.
Webb juga diminta menjadi imam di Komunitas Islam Oklahoma, di mana ia rutin memperlihatkan khutbah, mengajar kelas-kelas agama, dan menjadi konselor bagi keluarga dan perjaka Muslim di sana. Di luar itu, ia menjadi imam dan pemuka agama bagi komunitas-komunitas di seluruh penjuru AS.
Webb pernah menggalang dana sebesar 20.000 dollar AS untuk janda dan belum dewasa pemadam kebakaran yang tewas dalam serangan 11 September. Sebagai mualaf, Webb mengaku hidup di tengah masyarakat non-Muslim di AS bukan hal yang mudah. Di tengah kecurigaan dan islamofobia di kalangan masyarakat AS, ia bertekad untuk terus memperlihatkan gambaran Islam yang sebenarnya dan membuat kehidupan beragama yang harmonis.
Selain itu, Webb telah memperlihatkan kuliah di aneka macam belahan dunia termasuk Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, Afrika Selatan, dan Amerika Utara. Sepulangnya dari Mesir, ia tinggal di wilayah Teluk, Kalifornia, di mana ia bekerja bersama Komunitas Muslim Amerika semenjak animo gugur 2010 hingga animo hambar 2011.
Belum usang ini, ia mendapatkan sebuah posisi sebagai imam Pusat Budaya Komunitas Islam Boston (masjid terbesar di wilayah New England) hingga ia tetapkan untuk membawa keluarganya ke Boston dan menetap di sana.
Pada 2010, Royal Islamic Strategic Studies Center memasukkannya ke dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia.
Related Posts







